Penjelasan RSHS soal Kembar Siam Asal Garut tak Bisa Dipisah

Mochamad Solehudin - detikNews
Senin, 28 Agu 2017 17:58 WIB
Al Putri Anugrah dan Al Putri Dewi Ningsih balita kembar siam dempet perut. (Foto: dokumentasi RSHS Bandung).
Bandung - Anak balita kembar siam dempet perut asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, Al Putri Anugrah dan Al Putri Dewi Ningsih, divonis tidak bisa dipisahkan sejak lahir. Begini penjelasan dari tim dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung terkait hal tersebut.

Baca juga: RSHS Segera Operasi Kaki Tambahan Balita Kembar Siam Asal Garut

Ketua Tim Kembar Siam RSHS Bandung Sjarif Hidajat Effendi memastikan tubuh kedua bocah perempuan berusia 3 tahun 11 bulan itu tidak bisa dipisahkan. Sebab, dia menjelaskan, terdapat organ-organ vital bersatu seperti ginjal, saluran kencing, pembuluh darah dan lainnya, sehingga sulit untuk pemisahan.

"Hati bersatu, pembuluh-pembuluh darah dan aliran kencing yang saling bersinggungan satu sama lain sehingga tidak bisa dipisah," kata Sjarif di RSHS Bandung, Jalan Djunjunan (Pasteur), Kota Bandung, Senin (28/8/2017).

Ia menjelaskan kedua balita pasangan Iwan Kurniawan (39) dan Yani (30) ini akan selamanya menyatu. Proses pemisahan tidak mungkin dilakukan karena terlalu berisiko. "Apalagi hatinya menyatu. Hati itu organ vital sekali. Jadi (mereka) akan bersatu terus," ujarnya.
Penjelasan RSHS soal Kembar Siam Asal Garut tak Bisa DipisahKetua Tim Kembar Siam RSHS Bandung Sjarif Hidajat Effendi. (Foto: Mochamad Solehudin)
Namun begitu, tim dokter RSHS berupaya sebaik mungkin menangani bocah kembar siam ini. Pada pekan depan, RSHS berencana operasi menghilangkan kaki tambahan yang tumbuh di bagian tengah badan Al Putri Anugrah dan Al Putri Dewi Ningsih.

Selain itu, RSHS akan menerjunkan tim untuk memperhatikan tumbuh kembang mental kembar siam ini. Sehingga Al Putri Anugrah dan Al Putri Dewi Ningsih tetap dapat menjalani kehidupan layaknya orang normal pada umumnya.

Baca juga: RSHS Bentuk Tim Khusus Tangani Balita Kembar Siam Asal Garut

Sjarif mencontohkan kasus serupa yang terjadi di luar negeri. Di sana, lanjut dia, anak kembar siam mendapat perawatan sangat baik. Bahkan dijadikan warga kehormatan.

"Kasus seperti ini di luar negeri ada. Melalui rehabilitasi canggih jadi bisa aktivitas biasa, diterima di masyarakat. Mudah-mudahan pada anak ini bisa demikian. Makanya (kita turunkan tim) ada rehabilitasi medis dan psikologi anak," tutur Sjarif. (bbn/bbn)