Miliki Kaki Tambahan, Balita Kembar Siam Asal Garut Dirawat di RSHS

Mukhlis Dinillah - detikNews
Minggu, 27 Agu 2017 13:39 WIB
Foto: Istimewa
Bandung - Balita kembar siam dempet perut asal Garut Al Putri Anugrah dan Al Putri Dewi Ningsih (4) sejak lahir divonis tak bisa dipisahkan. Namun seiring waktu, kaki tambahan di tengah kedua kaki terus tumbuh. Kini keduanya berharap kaki yang tumbuh namun tidak berfungsi itu dihilangkan.

Anak dari pasangan Iwan dan Yani warga Kampung Padasari, RT 03 RW 07, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung sejak Jumat lalu (25/8/2017). Iwan mengatakan pihak RSHS tengah melakukan evaluasi kesehatan anak kembar itu sebelum nantinya operasi pemotongan kaki tambahan dilakukan. Putri dan Dewi sudah berada di RSHS sejak Jumat (25/8/2017).

"Sekarang anak saya masih di RSHS. Alhamdulillah ditangani dengan baik. Sekarang masih tahapan evaluasi kesehatan dan sebagainya," kata Iwan saat ditemui di RSHS, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Minggu (27/8/2017).

Menurutnya sejak lahir kedua putrinya itu divonis tidak bisa dipisahkan. Namun seiring berjalannya waktu ada kaki ketiga yang tumbuh secara perlahan namun tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Ia menuturkan kedua anaknya yang merasa kaki ketiga itu tidak berfungsi lalu menyampaikan keinginannya untuk dihilangkan dari tubuhnya. Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan, Iwan dan Yani menyetujuinya.

"Memang kalau tubuh sejak lahir divonis tidak bisa dipisah. Kalau kaki (tambahan) itu sudah ada sejak lahir, sampai sekarang tumbuh terus, tapi tidak berfungsi. Karena anak sudah bisa bicara, mereka minta dibuang saja," jelas dia.

"Ukurannya sepanjang setengah kaki yang ada. Sekitar 20 - 30 centimeter," ujarnya menambahkan.

Ia menjelaskan selain menunggu hasil evaluasi kesehatan kedua anaknya, RSHS juga tengah mempersiapkan tim dokter untuk menghilangkan kaki ketiga itu. Dokter bedah, anak dan ortopedi akan terlibat dalam operasi ini.

"Dokternya juga harus ada timnya ini dipegang tim dokter anak, beda, ortopedi," kata pria yang hanya buruh serabutan ini

Iwan mengaku tidak bekerja selama anaknya berada di RSHS. Meski biaya perawatan ditanggung pemerintah, ia kebingungan dengan biaya sehari-sehari untuk menunggu kedua putri di RSHS.

"Dinkes Garut juga sudah kasih bantuan dari mulai penanganan awal dan selalu mendampingi. Tapi sekarang saya bingung untuk biaya sehari-hari di sini," ujar Iwan.

(ern/ern)