detikNews
Jumat 11 Agustus 2017, 23:35 WIB

Kenangan Bocah SR di Mata Ibundanya: Semoga Jadi Ahli Surga

Syahdan Alamsyah - detikNews
Kenangan Bocah SR di Mata Ibundanya: Semoga Jadi Ahli Surga Foto: Syahdan Alamsyah
Sukabumi - SR siswa kelas 2 Sekolah Dasar Negeri (SDN) Longkewang, Desa Hegarmanah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat tewas diduga akibat aksi kekerasan yang dilakukan teman sekelasnya sendiri pada Selasa (8/8/2017) lalu.

Kepolisian dari Polres Sukabumi bekerja keras mengungkap peristiwa yang membuat publik tersentak. Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa sampai memberikan atensi khusus dan menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke areal perkampungan di Kabupaten Sukabumi itu. Dia merasa prihatin atas meninggalnya bocah berusia 8 tahun itu.

Sementara itu, Ijah (40) ibunda SR kini hanya bisa menatap kosong foto putra bungsu yang terbingkai dalam pigura, anak yang soleh, periang dan pintar itu kini telah tiada meninggalkan duka bagi keluarganya.

"Pulang sekolah (biasanya) dia mandi bersih-bersih terus mengambil wudhu, lalu pamitan mau ke masigit (masjid), semua keluarga dia salamin. Setelah itu pergi mampir dulu ke rumah teman buat ngajak salat bareng," tutur Ijah air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, Jumat (11/8/2017).

Setiap hari, SR berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki karena dari rumah ke sekolah hanya sejauh 700 meter. Detikcom sempat mencoba mengilas balik perjalanan SR ke sekolah dengan berjalan kaki, cukup melelahkan karena banyak tanjakan dan turunan tajam untuk sampai ke sekolah.

"Dia kalau berangkat minta uang jajan Rp 7 ribu, uang itu tidak ia jajankan semua. Kadang ia simpan kalau pengen sesuatu. Di hari-hari sebelum dia tiada dia sempat bilang mau nabung untuk beli burung. Saya sempat nanya mau dikasih makan apa nanti burungnya dia jawab pakai tumbukan beras," lirih Ijah menirukan ucapan putranya.

Tidak ada firasat apapun terlintas dalam benak Ijah, sehari sebelum meninggal dunia SR sempat berulangkali memeluk ibunya itu. "Saya pikir dia sedang merajuk, karena pengen dibelikan layangan. Saya sempat ngingetin, nak katanya kamu mau beli burung dia jawab makanya mau minta ke ibu," tangis Ijah tertahan, berulang kali dia mengusap dadanya.

"Sudah mas, saya tidak kuat semoga Allah menjadikannya ahli surga dengan segala kesolehannya," ucap Ijah.

Hujan tiba-tiba turun mengguyur perkampungan Citiris, Ijah mengucap syukur menurutnya sudah beberapa bulan ini kampungnya tidak tersiram air hujan. "Biarlah, mungkin mengguyur kubur anak saya agar sejuk," sambungnya.
(ern/ern)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com