Kepala Bidang KSDA Wilayah II Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Memen Suparman mengatakan owa jawa betina bernama Monik berusia 6 tahun disita BBKSDA DKI Jakarta pada Mei 2016. Owa Jawa jantan bernama Bakti berusia 4 tahun dari penyerahan sukarela warga Kampung Sukabakti, Cianjur, kepada BBKSDA Jawa Barat pada Januari 2014.
Keduanya dititipkan dan dirawat di PRPJ Ciwidey. "Kedua owa jawa itu sudah menjalani proses rehabilitasi. Ini salah satu upaya BBKSDA bekerja sama dengan yayasan Aspinal yang peduli pada rehabilitasi satwa primata dengan melepasliarkan sepasang owa jawa tersebut," ujar Memen saat ditemui di Gunung Tilu, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Rabu (2/9/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terakhir, sudah 20 ekor owa jawa yang dilepas. Sementara itu, populasi yang ada di gunung berjumlah 50 ekor. Diharapkan kedepan populasi owa jawa pada gunung yang memiliki luas 7.500 hektare bisa bertambah," ungkapnya.
Memen menambahkan, ke depan BBKSDA Jabar bersama Aspinal bakal melepas beberapa satwa primata seperti Lutung dan Surili yang kini masih direhabilitasi. Saat ini di Jawa Barat dan beberapa Gunung lainnya seperti Gunung Dieng dan Gunung Pangrango, terdapat sekitar 4.000 ekor owa jawa.
Owa jawa ialah primata yang telah dilindungi pemerintah Indonesia dan organisasi perlindungan alam dunia. Primata ini masuk daftar satwa terancam punah dengan status Genting (Endangered).
Faktor penyebab populasi owa jawa menurun yakni adanya pemburuan dan kawasan yang ada terdegradasi. Masyarakat yang memiliki hewan dilindungi agar menyerahkan kepada BBKSDA.
"Kami terus melakukan pengawasan dengan patroli yang dilakukan oleh polisi hutan di kawasan Cagar Alam," ucap Memen. (bbn/bbn)











































