Monik dan Bakti Dilepasliarkan di Gunung Tilu Pangalengan

Monik dan Bakti Dilepasliarkan di Gunung Tilu Pangalengan

Wisma Putra - detikNews
Rabu, 02 Agu 2017 13:52 WIB
Monik dan Bakti Dilepasliarkan di Gunung Tilu Pangalengan
BBKSDA Jabar lepas liarkan sepasang owa jawa. (Foto: Wisma Putra)
Bandung - Sepasang owa jawa (Hylobates moloch) bernama Monik dan Bakti dilepasliarkan di kawasan hutan lindung Gunung Tilu, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dua satwa primata itu hasil sitaan petugas dan penyerahan dari warga yang kemudian menghuni Pusat Rehabilitasi Primata Jawa (PRPJ) Aspinall Foundation di Ciwidey, Kabupaten Bandung.

Kepala Bidang KSDA Wilayah II Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Memen Suparman mengatakan owa jawa betina bernama Monik berusia 6 tahun disita BBKSDA DKI Jakarta pada Mei 2016. Owa Jawa jantan bernama Bakti berusia 4 tahun dari penyerahan sukarela warga Kampung Sukabakti, Cianjur, kepada BBKSDA Jawa Barat pada Januari 2014.

Keduanya dititipkan dan dirawat di PRPJ Ciwidey. "Kedua owa jawa itu sudah menjalani proses rehabilitasi. Ini salah satu upaya BBKSDA bekerja sama dengan yayasan Aspinal yang peduli pada rehabilitasi satwa primata dengan melepasliarkan sepasang owa jawa tersebut," ujar Memen saat ditemui di Gunung Tilu, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Rabu (2/9/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, pelepasan owa jawa di Gunung Tilu sudah dilaksanakan beberapa kali. Total sebanyak 70 ekor owa jawa ini dilepas ke Gunung Tilu dan diharapkan populasinya yang sekarang menurun menjadi bertambah.

"Terakhir, sudah 20 ekor owa jawa yang dilepas. Sementara itu, populasi yang ada di gunung berjumlah 50 ekor. Diharapkan kedepan populasi owa jawa pada gunung yang memiliki luas 7.500 hektare bisa bertambah," ungkapnya.

Memen menambahkan, ke depan BBKSDA Jabar bersama Aspinal bakal melepas beberapa satwa primata seperti Lutung dan Surili yang kini masih direhabilitasi. Saat ini di Jawa Barat dan beberapa Gunung lainnya seperti Gunung Dieng dan Gunung Pangrango, terdapat sekitar 4.000 ekor owa jawa.

Owa jawa ialah primata yang telah dilindungi pemerintah Indonesia dan organisasi perlindungan alam dunia. Primata ini masuk daftar satwa terancam punah dengan status Genting (Endangered).

Faktor penyebab populasi owa jawa menurun yakni adanya pemburuan dan kawasan yang ada terdegradasi. Masyarakat yang memiliki hewan dilindungi agar menyerahkan kepada BBKSDA.

"Kami terus melakukan pengawasan dengan patroli yang dilakukan oleh polisi hutan di kawasan Cagar Alam," ucap Memen. (bbn/bbn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads