Siswa SD Rancaekek Bandung Ini Terpaksa Belajar dengan Aroma tak Sedap

Wisma Putra - detikNews
Kamis, 20 Jul 2017 19:09 WIB
Foto: Wisma Putra
Bandung - Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan aroma tidak sedap dari sampah sudah menjadi hal biasa bagi siswa SDN III dan VI Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tepat depan sekolah tersebut terdapat Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar.

Pantauan detikcom, tumpukan sampah tersebut hanya berjarak sekitar tiga meter dengan sekolah yang berada di Jalan Station, Desa Rancaekek Wetan, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Di lahan sekitar 18x10 meter itu berbagai jenis sampah hasil rumah tangga menumpuk dengan ketebalan 1-2 meter.

"Kami merasa terganggu dengan kehadiran tumpukan sampah yang berada tepat di depan sekolah," kata salahsatu guru Siswayati (57) saat ditemui detikcom di sekolahnya, Kamis (20/7/2017).

Siswayanti mengungkapkan bau tidak sedap tercium jika KBM sedang berlangsung. Apalagi di saat musim hujan yang dimana tumpukan sampah tersebut menjadi basah dan mengeluarkan air lindi.

"Kalau musim kemarau kering tapi kalau kena angim sampah kerap berhamburan sampai ke halaman sekolah. Lalat dan bau sampah juga tak tahan," ungkapnya.

Siswa SD dRancaekek Bandung Ini Terpaksa Belajar dengan Aroma tak SedapFoto: Wisma Putra


Menurutnya tumpukan sampah itu sudah ada sejak 10 tahun ke belakang. "Sepuluh tahun lebih ada, pernah dikeruk dan dipagar tapi pagarnya dirusak dan sampah kembali menumpuk," ujarnya.

Polusi lainnya yang dirasakan para murid adalah asap pembakaran sampah. Warga sekitar kerap membakar sampah. "Alhamdullilah sampai saat ini belum ada kejadian apapun terhadap kesehatan anak. Tapi takut, anak kena malaria demam dan muntaber. Saya harap kepada pemerintah untuk segera dikeruk," harapmya.

Salahsatu orangtua murid Maya (40) mengatakan kehadiran sampah tersebut mengancam kesehatan anaknya yang sedang melaksanakan KBM di sekolah tersebut.

"Khawatir terjadi apa-apa. Apalagi para pedagang di sekolah ini berada dekat dengan tumpukan tersebut, takutnya ada kuman masuk ke makanan," tambahnya.

Sementara itu, salahsatu pedagang Idih (65) berujar yang membuang sampah ke tempat tersebut bukan penduduk Desa Rancaekek Wetan saja, tak jarang para penumpamg kereta yang melewat ke jalan tersebut membuang sampah dengan seenaknya.

"Main lempar saja, tanpa ada rasa malu. Mau siang, mau malam, banyak oramg atau tidak juga pede (percaya diri) aja," ketus Idih.

Sementara itu Camat Rancaekek Banjar Baban mengatakan keberadaan TPS itu diperlukan masyarakat sekitar. Sebab, tidak ada lagi lahan untuk membuang sampah. "Tidak akan ditutup karena kebutuhan masyarakat," katanya saat ditemui detikcom usai peresmian Kampung KB di Kecamatan Rancaekek.

Menurutnya penutupan tempat pembuangan sampah itu bukan solusi. "Kalau ditutup solusinya bagaimana? Nanti masyarakat pindah (membuang sampah) ke tempat lain," ungkap Baban.

Ia mengaku tengah memikirkan solusi yang tepat untuk diterapkan. "Kami ingin nanti ada kerjasama dengan Dinas Lingkungan hidup untuk melakukan pengangkutan sampah tiap minggunya. Terus ada jadwal dan dilakukan pemilahan," ujar Baban.

Selain itu pihaknya akan membangun pojok edukasi sampah. Dengan pojok edukasi tersebut, sampah milik warga yang dibuang ke TPS itu dapat tertata rapi dan tidak berantakan seperti saat ini.

"Lahan itu bukan milik kami, kami akan berkoodinasi dengan pemilik tanah. Kalau diijinkan kami akan buat program pengelolaan sampah, TPS edukatif berbasis pendidikan," ucapnya. (ern/ern)