Anak kedua dari tiga bersaudara itu sebagian tubuhnya dari mata kaki hingga pangkal paha dibalut perban. Helmi hanya bisa tidur terlentang akibat luka bakar yang dialaminya tersebut.
"Awalnya luka terbakar hanya 25 persen, tapi sekarang malah makin luas (luka bakar) menjadi 36 persen. Padahal udah 9 kali operasi waktu di RSHS Bandung," kata orang tua Helmi Mea Nursanti (40) di rumahnya Kompleks Pandanwangi A-10 RT003/RW009, Kelurahan Cijawura, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung, Senin (17/7/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sebagai orang tua sedih lihat anak saya menderita. Anak saya menangis terus ingin cepat sembuh. Enggak kuat pengen nahan sakit. Saya stres anak saya enggak sembuh-sembuh lukanya," tutur dia.
Mea menuturkan selama menjalani pengobatan di rumah sakit 4 bulan dan rumah 1,5 bulan terakhir ini, anaknya hanya bisa terbaring lemas di atas kasur. Namun, sesekali anaknya berendam di air hangat untuk membersihkan bekas lukanya.
"Selama 5 bulan anak saya hanya bisa terbaring di kasur. Kalau gerak perih soalnya. Cuma kadang-kadang berendem di air hangat biar bersih lukanya," jelas dia.
Foto: Mukhlis Dinillah |
Helmi yang sedang terbaring di atas kasur mengaku ingin cepat sembuh. Sebab, sambung dia, Helmi tak kuasa menahan sakit akibat luka bakar yang dideritanya selama ini. Helmi pun ingin cepat kembali bersekolah seperti sedia kala.
"Saya pengen cepet sembuh, soalnya enggak kuat sakit. Pengen bisa sekolah dan main lagi sama teman-teman," ungkap Helmi.
Selama menjalani pengobatan, kata dia, keluarga mengandalkan program BPJS. Pasalnya, sambung dia, pihak sekolah hanya mampu menanggung biaya pengobatan anaknya selama dua minggu saja.
"Awal-awal ditanggung sekolah, karena terbebani biaya jadi pindah ke BPJS setelah dua minggu," tutur dia.
Meski menggunakan program BPJS, tidak semua biaya pengobatan tercover. Mea bersama suami tetap harus merogok kocek untuk membeli beberapa obat dan vitamin untuk menunjang proses pengobatan.
"Walaupun pakai BPJS, saya juga tetap keluar uang buat obat-obatan dan vitamin. Soalnya BPJS cuma cover ruang rawat inap dan biaya operasi 9 kali," ungkap dia.
Ia menilai insiden yang menimpa anaknya beberapa waktu lalu tersebut murni akibat musibah. Meskipun terjadi lantaran kelalaian guru, pihak keluarga sudah ikhlas dan memaafkan pihak sekolah.
"Awalnya kami menyayangkan sekolah yang hanya mampu dua minggu bantu biaya anak kami karena keuangan sekolah menipis. Tapi kami juga tidak bisa nuntut banyak. Kami sudah memaafkan mereka (sekolah) karena ini musibah," kata Mea.
Perisitiwa nahas itu berlangsung saat Helmi mengikuti kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu (Persami) di lingkungan Yayasan Al-Aitaam, Bojongsoang, Kabupaten Bandung pada Sabtu 4 Februari 2017 silam. Saat sesi api unggun, salah seorang guru berniat menyiramkan api unggun menggunakan bensin dari botol. Namun, seketika api menyambar botol berisi bensin tersebut dan membakar lengan sang guru.
Secara refleks, sang guru melemparkan botol ke arah muridnya yang sedang mengelilingi api unggun. Api yang membakar botol pun turut menyambar Helmi di bagian kakinya.
(ern/ern)











































Foto: Mukhlis Dinillah