Sampah yang menumpuk sekitar sebulan lalu itu dibersihkan oleh 350 orang yang terdiri dari personel TNI, Polri, petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, Satpol PP, aktivis lingkungan, mahasiswa dan warga Kelurahan Baleendah.
Ratusan orang itu berjibaku membersihkan sampah menggunakan alat kebersihan dan diangkut menggunakan mobil. "Kami mohon kesadaran warga untuk memilah dan memilih sampah sejak di rumah tangga," kata Bupati Bandung Dadang M Naser usai melakukan pembersihan sampah di sepanjang jalan Terminal Baleendah, Jumat (14/7/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampah itu bisa bermanfaat manakala tidak dibuang sembarangan atau disatukan. Masalah sampah dapat tertangani jika masyarakat sadar untuk memilih dan memilah sejak di rumah tangga," kata Dadang.
Menurut dia, jika masyarakat dapat memilih dan memilah dengan efektif, masalah sampah di Kabupaten Bandung dapat tertangani. Cara tersebut ia mencontoh negara lain di antaranya Prancis, Belanda, Singapura dan Jepang.
Begitu juga masalah banjir, dapat ditangani jika air hujan diamankan di rumah masing-masing dengan membuat lubang biopori dan sumur resapan. "Jepang sudah bisa memilah sembilan macam sampah, Singapura lima macam. Kita tiga macam saja susah, minimalnya dapat memilah dua macam sampah organik dan an organik," tutur Dadang.
Untuk mengatasi permasalahan sampah di Baleendah, khususnya di sepanjang jalan Terminal Baleendah dan Pasar Baleendah, Dinas Lingkungan Hidup akan membangun pojok sampah edukasi di dekat Terminal Baleendah.
"Dari operasi kebersihan yang kami lakukan selama tiga hari, 280 meter kubik sampah dibersihkan," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Asep Kusuma ditemui di tempat yang sama.
Asep berharap kepada warga Kabupaten Bandung untuk tidak membuang sampah sembarangan di titik-titik yang telah dibersihkan. Ia meminta warga Kabupaten Bandung untuk membuat lubang cerdas organik yang berfungsi untuk membuang sampah organik hasil rumah tangga.
"Setiap warga hasilkan 60 persen sampah organik, 40 persennya anorganik, 30 persen bisa dijual ke bank sampah dan 10 persen residunya dapat dibuang ke TPA," ucap Asep. (bbn/bbn)











































