"Kalau musim kemarau, hama tikus dan kurangnya sumber air menjadi ancaman. Karena petani di wilayah ini hanya mengandalkan air dari aliran Sungai Cikeruh," kata salah satu petani, Jajang Rohimat (36), saat ditemui di lahan garapannya, Kampung Sapan, Desa Sukamanah, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/7/2017).
Selain itu, pada kemarau seperti ini kualitas air Sungai Cikeruh menurun. Itu terlihat dari berubahnya warna menjadi hitam, air berbuih seperti mengeluarkan minyak, dan mengeluarkan bau tidak sedap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecemasan serupa diungkapkan Ukar (50), petani di Kampung Sapan, Desa Tegal Luar, Kecamatan Bojongsoang. Bertepatan musim kemarau, ia bersama sejumlah petani lainnya harus menggunakan mesin diesel untuk mengairi lahan sawah garapannya.
"Pakai diesel kalau musim kemarau, karena sumber air jauh dan hanya ada di Sungai Cikeruh saja," ucap Ukar.
Guna mengairi sawahnya, para petani di Kecamatan Bojongsoang ini mesti mengganti biaya operasional mesin diesel dengan gabah kering. Dari luas lahan 100 tumbak atau 1.400 meter persegi, petani harus membayar 120 kilogram gabah kering kepada penyedia mesin diesel.
"Ketakutan kami di musim kemarau ini sama dengan petani lainnya, kekeringan dan serangan hama tikus. Saya pernah mengalami kerugian hingga 30 persen dari hasil gabah sekitar 8 kuintal menjadi 5 kuintal. Selain itu, sawah petani lainnya yang sulit di jangkau mesin diesel ditakutkan mengalami gagal tanam," tutur Ukar.
Ia menambahkan, selain hama tikus dan kekeringan, ia juga mengkhawatirkan hama keong atau siput sawah. "Jika keong sudah menempel di batang padi, padi itu tidak akan tumbuh lagi," kata Ukar. (bbn/bbn)











































