ADVERTISEMENT

Begini Respons Ridwan Kamil Soal Tarif 'Mencekik' Taksi Bandara

Mukhlis Dinillah - detikNews
Senin, 10 Jul 2017 20:53 WIB
Foto: Taksi Primkopau Bandara Husein Sastranegara (Mochamad Solehudin/detikcom)
Bandung - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menanggapi keluhan masyarakat soal tarif taksi di Bandra Husein Sastranegara. Ia meminta kepada Dishub Kota Bandung untuk segera menyelesaikannya.

"Saya sudah instruksikan ke Dinas Perhubungan dan menyelesaikannya. Bandung ini kan harus nyaman buat turis, apakah sarananya atau pemahalan pelayanan-pelayanan itu sudah saya instruksikan dibereskan," kata Emil sapaan Karib Ridwan Kamil, (6/7/2017).

Emil meminta pengelola taksi di Bandara Husein Sastranegara tersebut memberikan kesetaraan tarif dengan moda transportasi lainnya. Sehingga, sambung dia, masyarakat atau wisatawan yang datang ke Bandung tidak merasa dirugikan.

"Ada kewajaran harga yang kira-kira dimonopoli, ini mudah-mudahan dalam waktu dekat perkembangannya dilaporkan. Sedang lobi-lobi dengan Danlanud (Husein Sastranegara)," kata Emil.

Monopoli taksi di Bandara Internasional Husein Sastranegara dikeluhkan masyarakat. Sebab, tarif taksi yang dipatok oleh pengelola taksi terbilang mahal.

Salah seorang warga bernama Ivan Nurgraha mengeluhkan persoalan monopoli taksi lewat akun Facebook pribadinya. Dalam postingannya, warga Padasuka mengaku merogoh kocek lebih dalam untuk bisa pulang menggunakan taksi Bandara IHS.

"Bukan rahasia lagi kalau bandara internasional Bandung ini melarang taksi non bandara untuk masuk ambil penumpang di Bandara," tulis Ivan di akun Facebooknya, Senin (3/7/2017).

Dalam curhatannya di medsos ini, Ivan mengatakan harus memesan taksi untuk pulang ke rumahnya dengan harga Rp 100 ribu. Padahal, apabila menggunakan layanan transportasi online ongkos yang dikeluarkan hanya berkisar 50 ribu.

"Saya ke counter pemesanan taksi dan dapet tiket yang bertuliskan Rp 100 ribu untuk tujuan Padasuka, wow wow.. lumayan (mahal) juga ya," kata Ivan.

Setelah dibebankan oleh harga, Ivan juga menyayangkan pelayanan taksi yang kurang maksimal. Pasalnya, sambung dia, pengemudi taksi yang dinaikinya sama sekali tidak ikut membantu membawa barang bawaannya.

Menurutnya seharusnya monopoli yang dilakukan ini diimbangi dengan pelayanan optimal. Pasalnya, sambung dia, akan sangat merugikan konsumen dengan tarif yang mahal namun pelayanan kurang memuaskan.

"Penentuan tarif yang memukau namun tidak disertai dengan dukungan service yang setara, tentu sangat merugikan konsumen. Mau pake sistem monopoli terus ngelarang2 orang pake service lain, tapi service nya sendiri juga ga dimaksimalkan," tutup Ivan dalam postingannya.


(avi/avi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT