Hal itu diungkapkan Taohid, Koordinator penyakit menular Puskesmas Puter, Kota Bandung saat memaparkan hasil sementara survei terpadu biologis perilaku (SPTB) pengguna narkoba dalam diskusi yang digelar Rumah Cemara di Jalan Sultan Tirtayasa, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/5/2017).
Survei yang merupakan program rutin Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ini dilakukan Taohid sejak 1 Februari hingga 31 Maret 2017. Jumlah responden mencapai 250 orang yang seluruhnya merupakan pengguna aktif sabu-sabu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Taohid, dari hasil wawancaranya dengan responden, barang sabu-sabu di Kota Bandung mudah didapat. Harganya juga terjangkau. "Kisarannya Rp 300 ribu untuk seperempat gram. Tapi ada beberapa penjual yang tergantung berapa ada duitnya, nanti dikasih," katanya.
Patri Handoyo, perwakilan dari Rumah Cemara Bandung, mengatakan, dengan mudahnya mendapatkan sabu-sabu, menjadikan jenis narkoba ini terfavorit dibandingkan jenis narkoba lainnya.
"Di beberapa daerah seperti di Aceh, itu paling mudah mendapatkan sabu-sabu ketimbang ganja, padahal seperti Aceh populer ganja. Di Bandung juga seperti itu. Jadi bisa dikatakan sabu lebih populer dan mudah diperoleh," katanya. (ern/ern)










































