Oleh sekitar belasan polisi, selang itu kemudian dialirkan ke bak penampung berukuran besar dengan kapasitas isi sebanyak 2.000 liter yang rencananya akan digunakan sebagai sarana air bersih untuk 40 Kepala Keluarga (KK) di kampung tersebut.
Anggota Unit Pendidikan dan Rekayasa (Dikyasa) yang tergabung dalam tim Polisi Peduli sengaja datang ke Kampung Babakan Sirna sekitar pukul 07.00 WIB, Jumat (28/4/2017) untuk mewujudkan keinginan masyarakat setempat yang kesulitan mendapat air bersih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi sosial yang dilakukan Polres Cianjur untuk yang kesekian kali ini, bersumber dari pengumpulan infak seluruh anggota di Satlantas yang dikumpulkan selama 1 bulan. Dengan anggaran yang terkumpul, polisi kemudian membangun bak penampung dan membeli selang untuk mengalirkan air.
"Kami hanya menjalankan amanah, polisi tidak hanya menegakan hukum atau mengatur lalu lintas kegiatan semacam ini memudahkan kami untuk bersosialisasi dengan masyarakat dengan bersentuhan secara langsung dan mendengar apa kebutuhan mereka. Warga sangat antusias. Mereka bahu-membahu mewujudkan harapan mereka dan buktinya aksi kami ini memancing aparat desa setempat dengan mengupayakan selang lanjutan untuk disambung ke rumah warga," lanjutnya.
Siti Rohimah (48) warga setempat menyebut adanya selang yang mengalirkan air bersih menuju bak penampung membuat warga tidak lagi harus bersusah payah menyusuri lembah untuk mencapai lokasi mata air perbukitan.
"Setiap hari saya harus bolak-balik masuk bukit untuk sekedar mendapatkan air bersih, jaraknya hampir 2 kilometer yang jadi masalah untuk menuju tempat itu jalannya cukup terjal dan licin," ujarnya kepada detikcom.
Siti mengungkap, masalah air bersih memang menjadi persoalan utama di kampungnya, entah sudah berapa kali ia terjatuh ketika mengambil air. "Apalagi kalau malamnya hujan, pagi-pagi terpaksa saya ngambil air sambil belepotan tanah akibat terjatuh karena jalan yang licin," imbuhnya.
Ketua RT 06 Hilman (52) mengaku sangat sulit memperoleh air bersih, kalaupun membuat sumur kedalamannya bisa sampai 20 meter lebih.
"Itupun kalau musim hujan, ketika kemarau datang, air sumur hilang. Jadi sebenarnya percuma juga kalau harus bikin sumur, jadi warga kami memilih untuk berjalan kaki sambil membawa ember. Yang kasihan itu untuk orang yang sudah sepuh," cerita Hilman.
Kini warga setempat tidak lagi harus bersusah payah mengambil air, terlebih jelang ramadhan adanya air memang sangat dibutuhkan warga. "Kami berterimakasih kepada Polres Cianjur atas bantuan yang menurut ukuran kami sangat besar dan benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat ini," tutup dia.
(avi/avi)











































