"Fenomena kemarin (Pilkada DKI) luar biasa. Saya berani memprediksi (pemanfaatan media sosial) akan digunakan lagi (dalam Pilgub Jabar)," ucapnya, dalam diskusi Ancaman Toleransi Terhadap Ketahanan Bangsa, di Institut Francis Indonesia (IFI), di Jalan Purnawarman, Kota Bandung, Selasa (25/4/2017).
Karena menurutnya, metode memanfaatkan media sosial dalam kontestasi politik nyatanya membawa hasil. Contohnya saja dalam Pilpres 2014 dan Pilkada DKI lalu. Perang informasi di dunia maya dalam pesta demokrasi tersebut tidak dihindari. "Mereka mencoba menggiring masyarakat ke arah yang lebih dasar believe system," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Artinya media sosial adalah salah satu media yang diperhitungkan. Mungkin lebih berpengaruh dengan media lainnya," ucap dia,
Karena memiliki fungsi strategis, menurutnya, media sosial banyak digunakan untuk kepentingan tertentu. Tidak hanya sebagai sarana bersosialisasi tapi juga dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih strategis.
"Persoalannya sekarang pemanfaatannya saat ini berkaitan dengan kepentingan golongan ini yang kita khawatirkan. Ketika kemanfaatan ini diambil oleh yang berkepentingan secara politis hal ini tidak menjadi hal yang menguntungkan," ujarnya.
Dalam diskusi ini hadir sejumlah pembicara, dari Aliansi Jurnalis Independen Adi Marsiela, Dosen Jurusan Antropologi Universitas Padjadjaran Selly Riawanti.
(ern/ern)











































