Slamet Maryono (45), warga RT 28 RW 06, Kampung Cimaranginan, Desa Lengkong, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, merasa tidak asing dengan kehadiran Owa jawa di sekitar kediamannya. Bahkan, tak jarang saat ia rehat, beberapa ekor Owa turun dan bermain di teras depan rumahnya yang berbentuk panggung.
"Kaca jendela saya kan besar, mereka (Owa) terlihat centil bergaya di depan kaca. Kalau lapar mereka ketuk-ketuk jendela, saya siapkan makanan kalau ada," tutur Slamet di rumahnya kepada detikcom, Sabtu (22/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Slamet sudah lama tinggal di Kampung Cimaranginan. Di atas tanah miliknya, banyak tumbuh pohon buah-buahan mulai dari rambutan hingga jambu. Slamet menyatakan harus berbagi dengan keluarga Owa jawa yang seluruhnya berjumlah 6 ekor itu setiap kali pohonnya berbuah.
"Kadang saya kalah cepat. Belum sempat dipanen, eh cuma disisakan cangkangnya saja. Tapi saya enggak marah, mau gimana lagi tempat ini kan memang populasi mereka," ujar Slamet.
![]() |
"Banyak sukarelawan yang datang dan melakukan penelitian. Ditambah adanya bu Tini, warga sini yang sering memberi makan Owa jawa dan selalu mengawasi Owa-owa itu," kata Slamet.
Tini dimaksud Slamet ialah Tini Kasmawati (44), warga setempat yang setia mengawasi Owa jawa di Kampung Cimaranginan. Sebanyak enam ekor satwa itu mengenal 'akrab' perempuan tersebut melalui suara. Keluarga Owa itu memilih tak muncul bila sengaja dipanggil dan diberi makan oleh orang lain. Sewaktu diwawancarai detikcom, Tini menduga satwa itu mengenalinya melalui bau tubuh dan suaranya.
"Kalau sudah dengar suara saya, meski sedang di tengah hutan, mereka (Owa) pasti turun. Mereka sebelumnya mengawasi dari jauh, karena ketika terlihat ramai atau ada orang asing, mereka enggak akan mau turun. Setelah saya yang menghampiri, mungkin mereka merasa aman, baru mau mendekat," tutur Tini.
![]() |
Menurut Tini warga, kampung sudah menganggap keberadaan Owa jawa sebagai keluarga. Kalau ada panen buah-buahan, warga secara sukarela menyisihkan sedikit untuk diberikan ke Tini. "Kadang ada warga yang ingat kalau panen buah-buahan, mereka bilang ieu keur barudak (ini untuk anak-anak)," tutup Tini seraya terkekeh. (bbn/bbn)