Tini Kasmawati, Pawang Owa Jawa di Cimaranginan Sukabumi

Tini Kasmawati, Pawang Owa Jawa di Cimaranginan Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikNews
Sabtu, 22 Apr 2017 09:56 WIB
Tini Kasmawati (44). Foto: Syahdan Alamsyah
Sukabumi - Tini Kasmawati (44) berjalan sedikit terseok membawa dua kilogram pisang di tangan kirinya. Sementara tangan kanan memegang tongkat untuk membantunya menyusuri jalan lantaran sepasang mata Tini tak lagi tajam akibat katarak.

Perempuan tersebut warga Kampung Cimaranginan, Desa Lengkong, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ia saban hari rutin memberi makan untuk satu keluarga Owa jawa di kampungnya. Pada Jumat (21/4) kemarin, detikcom berkesempatan melihat langsung aktivitas Tini.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada enam ekor Owa jawa tinggal dekat perkampungan warga di areal Gunung Puncak Bule. Satwa tersebut kerap turun ke perkampungan warga di areal perbukitan Cibatu Rindu untuk mencari makanan. Warga setempat tidak merasa terganggu, meski harus melewatkan musim buah karena kerap disantap keluarga hewan bernama latin Hylobates moloch itu.

Sekitar satu kilometer berjalan, hingga pertengahan bukit, Tini berhenti. Ia menurunkan ember yang sengaja digantungkan menggunakan tali tambang di salah satu pohon setinggi lima meter. Ember itu dia isi satu sisir pisang, lalu dikerek kembali ke atas sembari berteriak layaknya memanggil seseorang.

"Wiki-wiki,Jojo, Abah, Emak, Tina," teriaknya.

Nama yang sering ia panggil ialah Wiki. Wiki ialah Owa Jawa berkelamin jantan yang paling menurut kepada Tini.
Tini Kasmawati, Pawang Owa Jawa di Cimaranginan SukabumiTini saat bersama seekor Owa jawa. Foto: Syahdan Alamsyah
Dari kejauhan terlihat puncak-puncak pohon bergoyang, semakin lama kian jelas dan mendekat, sesosok Owa jawa muncul dari rimbun pohon tempat ember yang diisi pisang. Tak lama, muncul empat ekor Owa jawa lainnya. Menurut Tini, detikcom berada dalam waktu tepat dan cukup beruntung menyaksikan kehadiran Owa jawa ini. Sebab, menurut Tini, para satwa ini malu-malu dan takut melihat orang asing.

"Kemarin ada sukarelawan dari Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) datang bersama peneliti dari Jerman dan Belanda serta sejumlah wartawan. Owa jawa ini enggak memperlihatkan diri meski saya panggil berkali-kali, makanya hari ini mungkin yang datang enggak terlalu ramai jadi mereka mau turun dan ambil makan," tutur Tini.

Menurut Tini, awalnya populasi Owa jawa di kampungnya luar biasa banyak, namun seiring adanya pembukaan lahan dan penebangan pohon, populasinya terus berkurang. Bahkan, menurut Tini, pernah satu Owa yang tergencet saat ada penebangan pohon oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

"Kami dan warga kemudian bertahan dan menolak penebangan, karena di atas puncak gunung ini juga ada mata air. Kalau saya sendiri jelas, tidak ingin populasi satwa ini punah dari kampung kami," ujarnya.

Tini mengaku mendapat banyak pengetahuan tentang Owa jawa dari sukarelawan PPSC, termasuk jika usia satwa itu hanya sampai 35 tahun. Bukan hanya itu, Tini secara gamblang bercerita soal Owa itu satwa paling setia karena hanya hidup dengan satu pasangan dan untuk mencari pasangan harus diluar keluarganya.

"Karena setianya itu, Owa yang berpasangan dan pasangannya ini mati, yang hidup biasanya akan stres dan ikut mati. Mereka paling tidak tahan dengan rasa stres, Owa ini tidak mau kawin dengan keluarga atau satu familly-nya, pasti dia mencari pasangan di luar itu," cerita Tini sambil menyebut selain di kampungnya ini ada habitat Owa Jawa di lokasi lain atau tepatnya di kawasan hutan Gunung Puncak Bule.
Tini Kasmawati, Pawang Owa Jawa di Cimaranginan SukabumiTini saban hari rutin memberikan makan untuk keluarga Owa jawa. Foto: Syahdan Alamsyah
Di Perkampungan Cimaranginan ada 6 ekor Owa jawa, Tini menamainya Abah dan Emak sebagai pasangan paling tua, disusul Wiki, Tina dan Jojo pasangan muda. Tina selalu menggendong anaknya yang masih kecil. "Saya belum melihat secara jelas anaknya, karena kondisi mata saya terganggu," ucap Tini.

Sudah empat tahun Tini menjadi pawang atau relawan penjaga Owa jawa di Kampung Cimaranginan. Kendati keadaannya jauh dari kata cukup, untuk kegiatannya itu ia tak jarang merogoh kocek pribadi hingga Rp 1 Juta perbulan demi membeli buah-buahan dan makanan Owa.

"Saya bangun warung nasi dan makanan dapat uang hasil pinjaman, dulu warung itu ramai dan penghasilan juga cukup untuk saya sendiri juga untuk memberi makan Owa Jawa. Namun setelah muncul warung-warung lain, penghasilan sedikit berkurang, ditambah saya harus bayar kosan dan uang pinjaman," ucapnya.

"Ya rezeki ada saja, kalau punya sedikit rezeki, saya beli buah-buahan seperti pisang, pepaya, mangga atau kalau ada warga yang panen pisang atau buah-buahan lain suka ngasih juga ke saya. Warga juga suka bilang kalau panen nih ini buat anak-anak (Owa jawa)," kata Tini.

Tini hidup sebatang kara, kedua orang tuanya meninggal dunia sementara saudaranya sudah menikah dan tinggal bersama pasangannya. Tini tidak memiliki anak karena belum menikah, meski asli lahir di Kampung Cimaranginan, ia saat ini menghuni sebuah rumah kosan seharga Rp 250 ribu perbulan. (bbn/bbn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads