DetikNews
Jumat 21 Apr 2017, 09:08 WIB

Tinggal di Gubuk Derita, Abah Tarsa Hanya Ditemani Kucing

Mukhlis Dinillah - detikNews
Tinggal di Gubuk Derita, Abah Tarsa Hanya Ditemani Kucing Foto: Abah Tarsa (Mukhlis Dinillah/detikcom)
Kota Bandung - Jauh dari kata layak. Tarsa (82) selama dua tahun terakhir tinggal seorang diri di sebuah gubuk menyerupai kandang. Tak ada kamar mandi, apalagi listrik sekadar untuk memberikan sedikit cahaya di kegelapan malam.

Semasa hidupnya, Tarsa sudah menikah empat kali. Namun, Tarsa hanya memiliki dua orang anak dari istrinya yang ketiga. Tapi sayang, kedua anaknya itu meninggal dunia. Terakhir, istri keempatnya juga meninggal pada tahun 2012 lalu.

Mau tonton video terbaru dan asyik lainnya?


"Abah ayeuna nyalira weh (saya sekarang sendiri. Istri tos maraot sadayana, anak oge (istri sudah meninggal semua, anak juga)," kata Tarsa kepada detikcom di gubuknya di Sweet Antapani Regency, Jalan Antapani, Kota Bandung, Kamis (20/4/2017) kemarin.

Semenjak sang istri meninggal dunia, Tarsa kesehariannya hanya di temani dua ekor kucing serta enam ekor ayam milik orang lain yang dititipkan kepadanya. Tarsa menyayangi hewan-hewan itu seperti anaknya sendiri.

"Nyaah ka dua ucing iyeu mah (sayang ke dua kucing ini mah). Mun wengi sok tidur sareng bapak (kalau malam suka tidur dengan saya). Kadang kucingna sok siga nu mencetan abah (kadang kucingnya suka kayak mijitin saya)," tuturnya sambil mencontohkan.

Hiburan mewah yang dimiliki Tarsa hanya sebuah radio pemberian orang lain. Untuk mengisi waktunya sebelum atau sesudah memulung, Tarsa terkadang berkebun singkong. Terlihat sejumlah tanaman singkong di depan gubuknya.

"Bapak gaduh kebun singkong kecil di depan. Lumayan hasilna kanggo tuang (lumayan hasilnya untuk makan)," ungkap dia.

Tarsa mengaku uang hasil memulung cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Namun terkadang kurang apabila dirinya sakit dan tidak bisa bekerja. Beruntung, Tarsa masih ada saudara dari istri keempatnya yang sesekali mengunjunginya.

"Mun abah nuju gering atau teu gaduh katuangan sok aya nu ngabantosan (kalau saya sakit atau enggak ada makanan suka ada yang bantu). Aya oge saudara abah nu kadang kadieu ngalongok (ada juga saudara yang kadang menjenguk)," kata dia.

Saudaranya yang kebetulan berada di lokasi, Elis (47) mengaku prihatin dengan kondisi Tarsa yang sudah dianggapnya sebagai kakeknya sendiri. Sehingga, Elis selalu menyempatkan diri berkunjung apabila sedang tidak bekerja.

"Saya kasian sama abah, sudah tua tapi hidup seperti ini," kata Elis yang tingga di Cisaranten, Arcamanik, Kota Bandung ini.

Dia mengatakan apabila memiliki rezeki berlebih kerap mengirimkan Tarsa makanan atau sembako. Bahkan, dia sudah mengajak Tarsa tinggal bersamanya, namun dia menolak. Tarsa merasa sudah betah tinggal di gubuk itu.

"Saya juga udah minta abah tinggal di kontrakan saya, tapi abah enggak mau. Saya juga cuma bisa bantu seadanya saja," ungkap Elis.

Menurutnya, selama ini belum ada sama sekali perhatian pemerintah kepada kakeknya. Jangankan bantuan tempat tinggal yang cukup layak, beras miskin (raskin) dari pemerintah pun tidak pernah dinikmati oleh Tarsa selama ini.

"Selama ini setahu saya abah enggak pernah dapat raskin, padahal abah orang yang paling membutuhkan. Akhir-akhir ini bantuan datangnya dari donatur masyarakat," kata Elis.
(avi/avi)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed