DetikNews
Jumat 21 April 2017, 07:45 WIB

Kisah Kakek di Bandung Hidup Sebatang Kara Tinggal di Gubuk Derita

Mukhlis Dinillah - detikNews
Kisah Kakek di Bandung Hidup Sebatang Kara Tinggal di Gubuk Derita Foto: Mukhlis Dinillah
Bandung - Malang sekali nasib Tarsa (82). Kakek ini hidup sebatang kara di sebuah gubuk berukuran 2 x 3 meter. Kondisi gubuknya sangat mengkhawatirkan tak ubahnya kandang hewan ternak.

Gubuk derita Tarsa berada di tengah-tengah rumput ilalang dalam kawasan perumahan cukup mewah Sweet Antapani Regency. Lokasinya juga berada tepat di belakang SMP 49 Jalan Antapani, Kota Bandung.

Detikcom berkesempatan berkunjung ke gubuk derita Tarsa, Kamis (20/4/2017). Saat itu Tarsa tengah duduk santai di depan gubuknya bersama seorang saudaranya yang kebetulan berkunjung menjenguknya.

Kisah Kakek di Bandung Hidup Sebatang Kara Tinggal di Gubuk DeritaFoto: Mukhlis Dinillah

Senyum ramah diperlihatkan keduanya. Tarsa sedikit bercerita tentang kisah hidupnya yang malang. Sudah dua tahun gubuk derita ini menjadi tempatnya berlindung dari teriknya matahari dan dinginnya malam.

"Saya sudah tinggal dua tahun di gubuk ini," kata Tarsa sambil tersenyum.

Gubuk derita Tarsa berada di tengah-tengah rumput ilalang. Di depan dan di samping gubuknya terdapat kandang ayam dan kambing milik orang lain yang dititipkan kepadanya. Bau kotoran hewan ternak cukup tercium.

Selain kandang, di bagian luar ada juga dapur kecil tempatnya memasak beras dan air menggunakan tungku. Sangat sempit, hanya muat untuk satu orang. Hanya beralaskan tanah.

Masuk ke bagian dalam gubuk, kondisinya cukup mengkhawatirkan. Hanya ada lemari usang dan kasur lusuh tempatnya beristirahat. Gelap tidak ada sedikit pun cahaya. Wajar saja, tidak ada celah ventilasi.

"Kieu weh sep kondisina, pengap da teu aya ventilasi (begini kondisinya, pengap enggak ada ventilasi," tutur dia.

Kisah Kakek di Bandung Hidup Sebatang Kara Tinggal di Gubuk DeritaFoto: Mukhlis Dinillah


Tarsa sudah tinggal di gubuk ini dua tahun terakhir semenjak sang istri meninggal dunia 2012 lalu. Ia membangun gubuk ini seorang diri selama sepekan. Bahan bakunya didapat saat memulung.

"Kalau mulung dapet kayu atau triplek saya bawa. Terus saya bangun perlahan-lahan, jadi gubuk ini," ucap dia.

Semasa hidupnya, Tarsa memang tidak pernah tinggal di tempat nyaman. Dia hanya tinggal dengan membangun gubuk di atas tanah milik orang lain. Namun, lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya saat ini.

"Bapak mah jalmi teu gaduh (bapak orang enggak punya). Tinggalna di gubuk weh (tinggal di gubuk aja). Ngabangun di tanah orang lain. Tos sabaraha kali ngalih (udah beberapa kali pindah," kata Tarsa.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Tarsa mencari barang-barang bekas untuk dijual kepada pengepul. Walaupun kondisi tubuhnya yang sudah renta, Tarsa tidak mau hidup mengandalkan belas kasih orang.

"Dulu mah abah pekerja kasar. Ayeuna tos sepuh jadi mulung weh (sekarang udah tua jadi mulung aja). Embung ngemis ka batur mah (enggak mau ngemis ke orang). Tapi kalau ada yang kasih saya makan atau apa saya terima," ungkap Tarsa.




(ern/ern)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed