Selain ke Rumah Pengasingan, Emil, juga mengunjungi Masjid Jamik Bengkulu. Masjid tersebut merupakan bangunan yang dirancang Soekarno saat pengasingannya dan kini tetap menjadi tempat beribadah sekaligus dipertahankan sebagai bangunan cagar budaya.
Pria yang gemar memakai peci itu menilai, Pengasingan Soekarno selama empat tahun di Bengkulu, memiliki perjalanan kisah unik. Bung Karno bersama keluarganya, yang notabene dibuang/ diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada Tahun 1938 justru tdiak melemahkan semangat juang dan tidak menghentikan Sang Proklamator untuk terus berkarya. Tak hanya itu, di Bengkulu juga terukir kisah cinta yang tak terduga, antara Soekarno dan Fatimah atau Fatmawati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari perspektif itulah, lanjut Emil, Bengkulu merupakan salah satu tempat penting dalam sejarah pada waktu perjalanan lahirnya Republik Indonesia.
"Kalau tidak ada Bengkulu, jangan-jangan tidak ada Republik Indonesia. Jadi sangatlah penting sisi kesejarahan Bengkulu ini dalam titimangsa dari lahirnya Republik Indonesia," tegas Emil.
Dalam kesempatan itu, Emil juga menyampaikan rencana melakukan napak tilas jejak Sukarno di Sumatera. Situs-situs yang pernah dilalui Bung Karno akan dicari kemudian disempurnakan dan diperbaiki. Tak hanya perbaikan secara fisik, namun juga penyempurnaan pada materi sejarahnya.
"Mudah-mudahan semangatnya (Bung Karno-red) bisa dipedomani diteladani oleh masyarakat, terutama anak-anak muda yang rata-rata makin jauh dari sejarah," ungkap Emil yang mengaku baru kali pertama mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu.
Di Bengkulu juga akan diresmikan revitalisasi Bengteng Marborough, sebuah situs atau bagungan cagar budaya peninggalan Inggris yang dibangun antara tahun 1713-1719. (avi/avi)











































