Sekitar pukul 11.40 WIB, pria yang karib disapa Emil itu tiba di depan Kampus Unikom. Dengan mata kepalanya sendiri, Ia melihat mahasiswa memarkirkan kendaraan seenaknya dan buang sampah sembarangan.
"Mahasiswa itu kan pendidikannya tinggi, harusnya memberikan contoh, tidak parkir di trotoar tidak buang sampah sembarangan. Bukan memberikan contoh buruk," ujar Emil kepada mahasiswa yang nongkrong di seberang Kampus Unikom, Rabu (1/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kamu yang jaga ini? Kenapa dibiarin? Tong parkir di trotoar atuh (jangan parkir di trotoar dong)," ujar Emil kepada petugas parkir.
Emil kemudian melihat tumpukan sampah di bawah pohon. Ia meminta petugas parkir untuk mengambil sampah tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.
"Ini sampah bawa. Tanggungjawab kamu ini. Itu bantuin atuh. Mahasiswa harusnya jadi contoh karunya tukang parkirna," ucap Emil sambil menunjuk ke arah mahasiswa yang malah menonton.
Kemudian Emil memanggil yang memakai baju pangsi tersebut memanggir penanggungjawab restoran cepat saji Recheese Factory, datanglah seorang pria bernama Mochamad Hendi.
"Ini itu sudah dibagun dengan uang rakyat. Tolong dirawat, dibikin taman kecil, dikasih tanah lembang diberi tanaman. Sama mahasiswa jangan parkir di trotoar. Saya doakan bisnis lancar, panjang umur. Dua minggu saya ke sini sudah rapi ya," ucap Emil.
Pria lulusan Univeristy of Berkeley California itu kemudian menelusuri trotoar ke bawah. Setiap ada toko atau unit usaha, Emil meminta manajer tokonya untuk membuat taman, dan mengepel trotoar.
"Tolong ya dibikin taman kecil, sama setiap pagi ini trotoarnya dipel. Kamu mau kumuh apa bersih trotoarnya," kata Emil.
"Bersih Pak," ujar salah satu pegawai dealer Yamaha.
Tak lama hujan tiba-tiba mengguyur kawasan Dipatiukur dengan derasnya. Emil menyudahi sidak dan pulang ke Pendopo.
(avi/ern)











































