Herdiansyah sehari-harinya bekerja sebagai tukang kupas kelapa di pasar tradisional Cibadak, sementara istrinya Erni Sumarni (32) bertugas menjaga kedua anaknya yang masih kecil Jihan Amandan (10) dan M Yaser (3). Penghasilan Herdiansyah hanya cukup untuk makan seadanya.
"Jangankan punya, untuk sewa saja gak mampu. Tinggal sudah 10 tahun di sini itupun atas izin pemilik tanah. Mau bagaimana lagi, saya terima aja habis mau tinggal dimana lagi penghasilan saja sehari kadang cuma Rp 7.000," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya fokus saja menyekolahkan Jihan anak yang paling besar. Sekarang dia sudah kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Istri juga sesekali membantu dengan berjualan jajanan di sekolah, berapapun yang kami hasilkan yang penting cukup untuk makan," lanjutnya.
Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom |
"Saya memang gak pernah nolak kalau dimintai bantuan. Asalkan halal dan bisa saya kerjakan ya pasti saya lakukan. Kalau ada yang kasih imbalan saya terima, kalau enggak pun saya nggak ngeluh," tuturnya lagi.
Bibir Herdi sedikit tercekat, ketika ditanyai apa keinginannya. Menurut dia, hanya punya satu mimpinya, yakni membesarkan anak dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya itu. Herdi mengaku hanya lulusan SMP, ia berharap nasib anaknya akan lebih baik bila pendidikannya diperhatikan.
"Tinggal di sini karena nggak ada pilihan, yang penting saat ini saya mencari rezeki semua untuk kepentingan anak. Begitupun istri saya, dia nerima dan ikhlas asalkan anak-anak bisa tumbuh dengan baik dan mendapatkan pendidikan sampai tinggi," ujarnya lagi.
Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom |
Arti menyebut Herdiansyah dipilih menjadi ketua RT karena dikenal ulet dan bersemangat. "Pak Herdi ini bertanggung jawab kepada warga, ulet dan bertanggung jawab. Lagi pula beliau ini masih muda, mewakili warga sini yang memang mayoritas aktivitasnya berdagang," tandas dia.
Halaman 2 dari 2












































Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom
Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom