Namun detail lokasinya sendiri masih dalam pembahasan. Karena pembangunan perpustakaan mini tersebut harus berada di tanah milik Pemkot Bandung.
"Belum dihitung, masih disurvei. Kan harus tanahnya pemkot. Di tempat yang padat penduduk dan banyak anak-anak," ujar Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum, Selasa (31/01/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Inilah contoh bagaimana kita ingin meningkatkan budaya literasi, budaya membaca, tapi dengan konsep jemput bola, memperbanyak perpustakaan-perpustakaan yang unik dan keren di wilayah-wilayah padat penduduk," terang pria yang karib disapa Emil itu.
Keempat lokasi tersebut antara lain di Alun-Alun Bandung, Babakan Sari Kecamatan Kiaracondong, Taman Lansia, dan Taman Tegalega. Tiap lokasi akan dirancang agar fungsinya tidak sekadar perpustakaan tetapi juga ruang kegiatan masyarakat.
Pembangunan perpustakaan akan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai perusahaan, seperti Pertamina, Telkomsel, Manila Water dan Bank BJB.
Sebelumnya, Pemkot Bandung telah membangun micro library di Jalan Bima. Konsep tersebut merupakan yang pertama di Indonesia hasil karya SHAU Architecture.
(avi/ern)











































