"Saya kebetulan sedang di Jakarta. Dapat kabar itu, saya langsung berangkat dari tempat kerja ke Bandung (RS Borromeus)," kata Muhammad kepada detikcom di RS Borromeus, Jalan Ir H Juanda, Senin (7/11/2016).
Muhammad menilai peristiwa yang menimpa putranya itu merupakan musibah. Pasalnya, sambung dia, insiden horor itu berlangsung menjelang pagi hari bukan tengah malam. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya akan ada aksi begal di jam menjelang pagi hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disamping itu, dia menyayangkan kondisi Kota Bandung sudah tidak nyaman bagi masyarakat dengan keberadaan begal. Sehingga, pihaknya berharap situasi tersebut bisa menjadi perhatian lebih dari Pemkot Bandung dan aparat kepolisian setempat.
"Teman-teman saya di kantor juga jadi khawatir karena anak-anaknya kuliah di sini juga. Mereka bilang Bandung sudah enggak aman. Saya harap ini menjadi perhatian," ucap dia.
"Ini tindakan kriminalitas yang harus diusut tuntas oleh kepolisian. Saya serahkan semuanya kepada polisi agar para pelaku bisa segera ditangkap," ujar Muhammad menambahkan.
Menurutnya, peristiwa ini harus menjadi pembelajaran buntuk lebih berhati-hati dalam berkendara. Sebisa mungkin menghidari lokasi maupun waktu rawan terjadinya aksi kejahatan jalanan.
"Memang musibah tidak ada yang bisa prediksi. Tetapi setidak ya kita sudah berhati-hati. Karena hanya kita yang bisa melindungi diri sendiri," ujar dia.
Pada Minggu (6/11) kemarin, sekitar pukul 05.30 WIB, Rifqi Zaidan Muharri (20) bersimbah darah setelah bagian kepalanya dan lutut dibacok oleh emoat orang pelaku yang mengendarai sepeda motor. Para pelaku merampas sepeda motor milik mahasiswa jurusan teknik geodesi ITB ini. Saat itu korban akan pulang ke kosannya. Namun korban diserang di Jalan Tamansari, Kecamatan Coblong. Rifqi mendapatkan penanganan intensif di Rumah Sakit Borromeus Bandung.
(avi/avi)











































