Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Yusri Yunus menyebut, kawasan hutan lindung di hulu Sungai Cimanuk sudah banyak dijadikan kebun warga dan objek wisata. Pemeriksaan dilakukan oleh Subdit 4 Unit Tipiter Dit Reskrimsus Polda Jabar.
"Pemilik objek wisata dan masyarakat yang memiliki perkebunan kita panggil untuk dimintai keterangan biar perkara ini terang," ujar Yusri di Mapolda Jawa Barat, Kamis (6/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan satu objek wisata saja, untuk jumlahnya nanti kita lihat dulu yang pasti memang kawasan objek wisata memang kita panggil," kata dia.
Yusri melanjutkan, hampir seluruh kawasan hutan lindung sudah beralih fungsi. Para warga banyak yang menanam sayur-sayuran.
"Ada itu yang tanam Palawija, Kol, dan sayur-sayuran lainnya. Jadi memang sudah benar-benar berubah," lanjutnya.
Yusri menyebut jika hasil dari pemeriksaan perkara lingkungan hidup dan kehutanan terbukti adanya pelanggaran, maka status penyelidikan akan naik menjadi penyidikan.
"Karena di sana ada kerusakan lingkungan kan, hutan jadi kebun warga. Ada juga pembangunan wisata disana makanya kita panggil hari ini supaya perkaranya terang," kata dia.
Bagaimana dengan adanya dugaan korupsi ?
"Nanti setelah tentang lingkungan hidup dan kehutanan ada pelanggaran, baru kita kerucutkan lagi untuk melihat dugaan korupsinya. Kalau korupsi kan harus ada kerugian negara, dan nanti kita lihat hasilnya dari pemeriksaan pertama kali ini," tandasnya.
Hari ini juga Polda memeriksa BPBD Kabupaten Garut, Basarnas, Dinas Perhutani Kabupaten Garut, dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) RI Kabupaten Garut.
Sementara itu sekitar 5 petugas BPN RI Kabupaten Garut juga langsung masuk ke ruangan Tipiter. Salah satu petugas, Asep Suyono mengungkapkan pihaknya datang untuk dimintai pendapat terkait alih fungsi lahan.
"Kita diminta pendapat karena memang di sekitar area hulu Sungai Cimanuk sudah banyak lahan dijadikan perkebunan sayur, disana juga ada tempat wisata juga," kata Asep kepada detikcom sesaat sebelum masuk kedalam ruangan penyidik.
Polisi dalam hal ini menanggapi serius atas kerusakan lahan yang terjadi di Kabupaten Garut. Diduga lingkungan yang rusak menjadi salah satu penyebab bencana banjir bandang yang menewaskan 34 jiwa dan 19 orang yang masih hilang. (ern/ern)











































