Kemudian Desa Citeureup ada 235 rumah tergenang terdiri dari 585 KK atau 1.250 jiwa. Desa Cangkuang Wetan 93 rumah terdiri dari 148 KK atau 446 jiwa, dan Kelurahan Pasawahan ada 172 rumah tergenang terdiri dari 189 KK atau 554 jiwa.
Banjir juga membuat murid tak bisa sekolah karena ada tujuh SD tergenang, di antaranya SD Negeri Bojongasih 01 dan 02, SD Negeri Bolero 07 dan 10, dan SD Negeri Leuwi Bandung 01. Delapan masjid di Desa Citeureup dan Dayeuhkolot ikut terendam.
Namun tak ada penduduk yang mengungsi di Dayeuhkolot. "Jumlah pengungsi nihil. Jalan utama dari Dayeuhkolot menuju Kota Bandung lancar, tidak ada genangan air," kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Yusri Yunus, Sabtu (24/9/2016).
Sementara di Kecamatan Baleendah ada warga yang mengungsi. Lokasi pengungsian dibagi dua di GOR Keluarahan Baleendah 105 jiwa dari RW 20 Kelurahan Baleendah, dan Gedung Inkanas 122 jiwa dari Kampung Uak, Cigosol, dan Kampur Andir.
Jalur Andir-Rancamanyar dilaporkan tedapat genangan air setinggi 50-80 sentimeter sehingga tidak dapat dilewati kendaraan. "Arus lalu lintas dialihkan lewat jalur Bojongsoang," sebut Yusri.
Sementara jalur Anggadireja-Dayeuhkolot (samping SPBU sebelah timur) genangan tidak merata tapi masih dapat dilewati kendaraan. Jalur Jalan Raya Banjaran-Dayeuhkolot tidak ada genangan. "Kampung Cieunteung terdapat gengan setinggi 80 sentimeter," kata Yusri. (ern/err)











































