Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jabar Muhdan Firdaus mengaku prihatin dengan kondisi yang terjadi saat ini. Ia menilai rentetan kasus penculikan itu tak lepas dari minimnya pengawasan dari berbagai pihak.
"Penculikan ini kan karena orang tua yang kurang memantau. Selain orang tua juga kan ada lingkungan sekolah dan tempat tinggal mereka yang juga harusnya juga ikut memantau," ucap Muhdan via telepon, Selasa (20/9/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, pemahaman ini tidak hanya wajib dilakukan oleh orang tua tetapi juga guru-guru di sekolah. Sebab, sambung dia, anak merupakan peniru ulung sehingga mudah dijejali sesuatu yang baru.
"Jadi pihak sekolah dan orang tua harus memberikan pemahaman kepada anak terkait internet yang sehat. Karena ini penting untuk langkah antisipasi," ujarnya.
Muhdan mendorong pihak kepolisian mengusut tuntas kasus-kasus penculikan tersebut. Mengingat masih ada salah seorang anak dari lima korban penculikan yang masih dalam genggaman pelaku.
"Saya yakin dengan penanganan intens bekerja sama dan mengawal proses yang ditempuh polisi, semuanya bisa tuntas," kata Muhdan.
Kasus penculikan di Jawa Barat sepanjang September yang menyedot perhatian publik yakni dua bocah Salma dan Salma yang dibawa kabur pengasuhnya di Bogor. Salam dan Salam bisa kembali ke rumah orang angkatnya setelah dilepas pelaku.
Lalu penculikan dua siswi Tiara dan Laras asal Kabupaten Bandung Barat yang diculik 'predator' Emon. Laras berhasil diselamatkan. Sementara Tiara yang belum ditemukan. Bukan hanya dua siswi tersebut, Emon juga dilaporkan membawa kabur perempuan berdomisili di Purwakarta. (bbn/bbn)










































