Bukan memainkan game seperti biasanya, justru anak-anak sekolah dasar (SD) ini membuat karya animasi. Mereka tengah berpacu dengan waktu menyelesaikan lomba Indonesia Cyberkids Camp (ICC) 2016.
Para peserta ICC 2016 wajib membuat karya animasi tentang kebudayaan Indonesia menggunakan software program kids. Selama tiga jam para animator belia ini membuat karyanya sesuai kreativitas masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peserta merupakan siswa SD dari Bandung dan Jakarta. Foto: Mukhlis Dinillah. |
"Jadi seleksinya para peserta harus membuat video karya animasi mereka lalu di upload ke YouTube. Karya yang bagus dan banyak like-nya lolos menjadi peserta ICC 2016," ujarnya.
Para peserta yang berlomba hari ini, kata dia, akan diambil dua orang terbaik. Nantinya, sambung Yusep, mereka akan kembali berlomba dan bersaing di tinggkat Asia.
"Rencana besok lombanya di ITB Jatinagor. Mereka akan bersaing bersama peserta dari negara Asia lainnya," ucap Yusep.
Menurutnya kegiatan ICC 2016 bertujuan untuk membiasakan anak-anak sekolah dengan dunia teknologi informasi. Mengingat, abad 21 sudah merupakan era digitalisasi.
Dengan pembiasaan mengakses teknologi informasi ini, ujar dia, anak-anak secara perlahan bisa berkreativitas dan produktif. Sehingga, dalam waktu 10 tahun mendatang mereka bisa menjadi produsen bukan hanya konsumen.
"Program Kids ini sudah menjadi standar dunia, tentunya dengan harapan lebih siap menghadapi masa depannya kelak," kata Yusep.
Animator belia ini membuat karyanya sesuai kreativitas masing-masing. Foto: Mukhlis Dinillah. |
"Kalau di Indonesia bentuknya masih ekstrakulikuler. Kami harap kedepannya bisa menjadi kurikulum wajib juga. Karena ini sangat penting untuk masa depan mereka," ucapnya.
Pelaksanaan ICC 2016 ini, tidak hanya terdapat lomba karya animasi. Ada juga lomba cerdas cermat yang diikuti oleh sejumlah siswa SD kelas 6 di Kota Bandung. Uniknya, mereka mencari jawaban sambil bermain game.
"Jadi mereka memecahkan suatu masalah secara berkelompok melalui aplikasi yang sudah disedikan. Bentuknya seperti game petulangan," ujar Yusep. (bbn/bbn)












































Para peserta merupakan siswa SD dari Bandung dan Jakarta. Foto: Mukhlis Dinillah.
Animator belia ini membuat karyanya sesuai kreativitas masing-masing. Foto: Mukhlis Dinillah.