"Kami memperkirakan usai 10 hari (sejak 19 Juli lalu) pasien sudah bisa rawat jalan di rumah," kata Inne Arline Diana, selaku dokter spesialis kulit dan kelamin RSHS Bandung.
Dia mengungkapkannya kepada wartawan di RSHS Bandung, Jalan Djunjunan (Pasteur), Kota Bandung, Kamis (21/7/2016). Guna memastikan kesehatan Diky usai mendapat perawatan di RSHS, menurut dia, perlu adanya perbaikan lingkungan di tempat tinggal pasien. Sebab, sambung Inne, faktor lingkungan menjadi salah satu penyebab penyakit kulit Diky memburuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terapi harus serempak, kita harus mengobati pasien dan perbaikan lingkungan sekitar. Tidak bisa hanya satu siklus," tuturnya.
Pihak RSHS Bandung saat memberikan keterangan kepada wartawan. Foto: Mukhlis Dinillah. |
"Jadi penyakit ini bisa menular lewat bersentuhan, menggunakan pakaian penderita. Kutu tersebut akan berpindah," ucap Inne.
Penyakit yang sebutannya Norwegian Scabies ini sifatnya endemis. Kutu-kutu tersebut akan menyebar di lingkungan sekitar tempat penderita tinggal. Pihak RSHS Bandung akan membersihkan seluruh kutu yang ada di tubuh Diky. Selain itu mengobati luka di tubuh Diky akibat kulit-kulitnya mengelupas hampir sekujur tubuh.
"Kami juga minta seluruh pakaian Diky maupun keluarganya untuk dicuci menggunakan air hangat untuk membersihkan kutu-kutu yang bisa saja menyebar. Karena bukan tidak mungkin keluarganya saat ini sudah tertular," ujarnya.
Soal kondisi kaki Diky yang tidak bisa berjalan, Inne mengaku akan melibatkan dokter spesialis lain untuk melakukan terapi lanjutan. "Kita akan bantu untuk terapi sambil menunggu kesembuhan kulitnya. Kaki dia kaku karena enggak pernah digerakan selama ini," kata Inne. (bbn/bbn)












































Pihak RSHS Bandung saat memberikan keterangan kepada wartawan. Foto: Mukhlis Dinillah.