DetikNews
Senin 20 Juni 2016, 18:53 WIB

Dua Pasar di Jabar Jual Makanan Mengandung Zat KImia Berbahaya

Masnurdiansyah - detikNews
Dua Pasar di Jabar Jual Makanan Mengandung Zat KImia Berbahaya Sidak di Pasar Sederhana / Foto: Masnurdiansyah
Bandung - Komisi IV DPR RI didampingi oleh Dinas Industri dan Perdagangan Jabar menemukan beberapa bahan makan yang menggunakan zat berbahaya. Temuan tersebut terungkap saat rombongan menggelar sidak di dua pasar tradisonal yaitu pasar Sederhana Kota Bandung dan pasar Johar Kabupaten Karawang. Sidak tersebut berkaitan jelang lebaran Idul Fitri 2016.

Petugas BPOM menemukan makanan mengandung zat berbahaya serta cairan berupa boraks. Zat pengawet untuk mayat ini terdapat di pasar Johar.

"Mereka menggunakan untuk itu untuk mengenyalkan lontong dan bahan bahan makanan lainnya. Zat kimia itu kami temukan dan saat ini kita selidiki," ujar Kadis Perindag Jabar Hening Widiatmoko di Pasar Sederhana, Sukajadi, Kota Bandung, Senin (20/6/2016).

Dia menerangkan, sejumlah makanan menggunakan zat berbahaya tersebut kerap dikonsumsi masyarakat. "Seperti mi, tahu dan kikil," ucap Hening.

Hening mengingatkan kepada masyarakat agar mengecek dan selektif memilih makanan. Sebab makanan mengandung zat berbahaya tidak layak konsumsi. "Tanpa disadari, kita memakan makanan beracun. Zaman seperti ini, kita harus banyak mengedukasi kepada masyarakat untuk coba curiga pada makanan yang tidak ada lalatnya," tuturnya.

Hening melanjutkan tidak semua makanan mentah yang dihinggapi lalat itu kotor dan jorok. "Kalau tempat sampah banyak lalat sudah pasti jorok. Tapi kalo makanan enggak ada lalat sama sekali itu patut dicurigai. Bandingkan dengan makanan yang ada lalatnya, mereka merasa aman terhadap makanan tersebut dan ini alamiah," ujar Hening.

Untuk hasil sidak di pasar Sederhana, Kota Bandung, tim menemukan bahan makanan yang mengandung zat berbahaya lainnya pada terasi dan agar-agar. Dalam kedua bahan makanan tersebut, setelah diperiksa oleh BBPOM Bandung, mengandung formalin dan rhodamin atau zat pewarna.

"Kita akan tarik dari pasaran. Kita tidak menindak pedagangnya, tapi cari produsennya dimana," kata Hening.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed