Hal itu dikemukakan dalam Seminar Ketatanegaraan di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Unpad, Jalan Dipatiukur, Selasa (31/5/2016). Pada seminar ini, hadir pula sebagai pembicara Mantan Ketua MA Bagir Manan dan Guru Besar Sosiologi Pertanian Unpad Ganjar Kurnia.
"Saya sering bertemu dengan pelajar. Mereka ada yang tidak hapal. Makanya saya aplikasikan Pancasila ini dengan cara kekinian, karena anak muda yang saya pegang harus dengan gaya mereka tapi otaknya paham bahwa sumbernya Pancasila," ujar Emil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sampaikan, hati-hati pergaulan. Kalau ada teman miskin kamu tolong hormati orang tua, jadilan anak-anak cerdas pikirannya, baik hatinya seperti itu di antaranya," ucapnya.
Lebih lanjut arsitek lulusan ITB tersebut mengungkapkan nilai-nilai pancasila, Ia aplikasikan ke dalam sejumlah program dalam kepemimpinannya di Kota Bandung.
Sila ke satu, Ketuhanan yang Maha Esa, di antaranya diterjemahkan dengan program Magrib Mengaji.
"Jadi bapa ibu, di Kota Bandung saat ini anak-anak kalau Magrib tidak boleh keluyuran, tapi mengaji di masjid sekitar rumahnya. Sila pertama juga soal pembelaan kepada kaum minoritas agama tentang membangun tempat ibadah, sempat didemo warga mayoritas, tapi menurut saya itu sudah sesuai prosedur jadi dilanjutkan," bebernya.
Selain itu, Kota Bandung tengah getol membagi program smartcity-nya yang merupakan bentuk nyata dari sila ketiga. "Sila ketiga persatuan kita peduli NKRI maka Bandung dengan sadar diri menyumbangkan smartcity ke Banjarmasin, Banjar, Bangka, termasuk tadi Kota Bukit Tinggi dan makin banyak," ujarnya.
Sementara untuk sila keempat, ucap Emil, telah diterjemahkan dengan membuat wadah informal bagai masyarakat sebagai bentuk demokrasi di Bandung.
"Sila keempat kita terjemahkan dengan membuat ruang demokrasi informal dengan membentuk dewan pendidikan, dewan budaya, cagar kebudayaan, tim ahli bangunan, dewan smartcity dengan begitu rakyat punya ruang untuk menyuarakan haknya kita buka ruang dengan media sosial agar warga bisa memberi kritik," jelasnya.
Adapun untuk sila kelima, Pemkot Bandung telah membuka celah untuk para pelaku usaha kecil menengah dengan menyediakan pinjaman modal tanpa agunan (Kredit Melati).
"Keadilan sosial ada kredit melati agar yang kaya makin kaya yang miskin ke bawa-bawa. Sudah dua ribu orang bebas rentenir," ungkapnya.
"Bagi saya di Bandung ini bercerita tentang Indonesia tidak hanya isu lokal, semua hikmah itu kalau diIndonesiakan dengan mudah bisa diduplikasi. Maksud saya itulah terjemahan tentang pentingnya Pancasila tanpa perlu diucapkan keras-keras, terhadap ekstrim kiri dan kanan harus waspada juga," tambah Emil. (avn/err)











































