Menurut Aher pangkal dari segala persoalan pencemaran di Sungai Citarum adalah perilaku masyarakat, bukan tentang bagaimana membersihkan limbah di Sungai Citarum.
"Yang sulit itu mengubah perilaku-perilaku buruk tadi, kalau membersihkan atau mengeksekusi pencemaran itu mudah, TNI ditugaskan dua hari saja untuk menangani (tumpukan sampah) di Cijagra selesai tapi setelah itu sampah muncul lagi," kata Aher, Rabu (18/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak yang dimaksud adalah, tidak membuang limbah ternak, tidak membuang limbah rumah tangga, tidak membuang limbah industri dan tidak menggunduli hutan. Sedangkan gerakan 'Ayo' yaitu, ayo hijaukan hutan, ayo olah limbah ternak menjadi bioenergi, ayo kelola sampah dan IPAL serta ayo bersihkan limbah Citarum," jelas Aher.
Ia berharap dengan gerakan sosial ini, lambat laun akan mengubah prilaku masyarakat dan sungai di Jabar khususnya Citarum akan kembali bersih.
Aher juga menyatakan akan mengadvokasi industri yang masih membuang limbah langsung ke Sungai Citarum, tanpa diolah terlebih dahulu. Saat ini, menurut catatan dari Gita Citarum dan peneliti di lapangan, hanya 25 persen industri yang mengolah dulu limbahnya sebelum dibuang ke Citarum, sisanya 75 persen langsung membuang tanpa pengolahan.
"Jadi saya mengimbau kepada seluruh pemilik industri yang menggunakan air Citarum untuk berpikir panjang ke depan, jangan hanya memikirkan keuntungan saja," tegas Aher. (ern/trw)











































