"Ini bagian dari penterjemahan Bandung Masagi, yakni pendidikan agama, bela negara, budaya dan cinta lingkungan. Yang non muslim juga dirumuskan," ujar pria yang karib disapa Emil itu di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Kamis (21/4/2016).
Dalam program Magrib Mengaji tersebut, anak-anak tak hanya mengaji Al Quran atau Iqro, namun juga dibekali dengan pendidikan karakter lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah masjid di Kota Bandung saat ini cukup banyak, ada sekitar 4.000. Untuk itu akan ada 2.000 relawan pengajar yang akan mengajar mengaji setiap magrib di masing-masing wilayah di Kota Bandung.
"Ada dari Kementrian, Kampus UIN, UNISBA, remaja masjid. Mereka sukarela. Tapi kalau ada yang mau (menyumbang) silakan. Mungkin tahun depan akan dipertimbangkan diberi honor," kata pria berkacamata tersebut.
Dengan adanya program Magrib Mengaji, Emil berharap masjid-masjid di Kota Bandung hidup dengan anak-anak yang belajar mengaji. Sehingga anak-anak yang mulanya malas ke masjid, menjadi lebih termotivasi untuk mau mengaji ke masjid.
"Tujuan kita punya sistem bagaimana mengedukasi anak-anak, meningkatkan mental spiritual," tandasnya. (avn/err)











































