Menengok Sentra Keramik Kiaracondong Bandung yang Hampir Punah

Menengok Sentra Keramik Kiaracondong Bandung yang Hampir Punah

Avitia Nurmatari - detikNews
Senin, 07 Mar 2016 10:22 WIB
Menengok Sentra Keramik Kiaracondong Bandung yang Hampir Punah
Foto: Avitia Nurmatari
Bandung - 'Centra Keramik Kiaracondong, 150 meter' begitu yang tertera di depan Jalan Terusan Stasiun Kiaracondong, Kelurahan Jayanti, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung.

Detikcom berjalan menelusuri pemukiman warga di samping rel kereta api untuk menemukan pusat keramik yang sempat tersohor di era tahun 1970 hingga 1990-an.

Rupanya tidak semua warga tahu keberadaan perajin keramik. Tidak ada tanda khusus memang. Dari depan rumah tidak terlihat plang atau ikon yang menunjukkan bahwa di sana ada perajin keramik yang masih bergeliat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akhirnya berjumpa dengan sepasang suami istri Waryana (65) dan Nani (60). Mereka adalah satu dari sisa tiga perajin keramik di Kiaracondong.

Kini Keramik Kiaracondong tak tersohor seperti dulu. Penjualan pun mulai lesu. Wajar saja jika dari puluhan perajin, kini hanya tersisa tiga.

"Sekarang perajin tinggal tiga. Saya, Pak Oma dan Pak Kosim," ujar Nani.

Nani bercerita masa kejayaan Keramik Kiaracondong di era kepemimpinan Presiden Soeharto. Kala itu kediamannya tak pernah sepi, keramik selalu habis diburu. Selain pembeli dan wisatawan, banyak juga mahasiswa jurusan seni rupa yang belajar keramik di tempatnya.

"Waktu zaman Pak Harto (Soeharto) wah ramai. Sampai ngantre. Keramik yang masih dioven juga sudah ditunggu-tunggu," terang Nani.

Pelanggan Keramik Kiaracondong juga tersebar hampir di seluruh Indonesia. Kala itu dalam sebulan, bisa sampai mengirim empat truk besar ke berbagai daerah.

"Dulu hampir semua daerah pesan ke sini, sekarang tinggal Kalimantan, Palu, Palembang, Surabaya dan Sumatera. Tapi enggak banyak," ucapnya.

Meski begitu Nani dan suaminya tetap bertahan menjalankan bisnis keramik yang merupakan bisnis turun-temurun dari mendiang ayahnya. Nani terpaksa memangkas karyawan-karyawannya yang semula 25 orang menjadi 10 orang.

"Terpaksa dikurangin karyawannya. Karena produksi juga kurang. Ya sambil dijalani saja, sayang kalau ditutup," tandasnya. (avi/ern)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads