"Satu PSK itu kalau tiap main, memberi kepada saya uang senilai Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu," ucap salah satu muncikari, S (24), kepada wartawan di Mapolsek Arcamanik, Jalan Cisaranten Kulon, Kota Bandung, Rabu (2/3/2016).
Dia mengaku mengelola enam perempuan PSK. Usianya rata-rata 18 hingga 25 tahun. Guna memuluskan bisnis esek-esek via sosial media WeChat, S bersama mucikari lainnya, AR (20), menyewa dua unit ruangan di apartemen yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau konsumen (pria hidung belang) sudah deal, saya mengontak PSK untuk datang ke apartemen," ujar S yang kesehariannya bisnis online sepatu.
Cara lainnya, S dan AR mengandalkan PSK yang tinggal di apartemen. Jika konsumen tiba di apartemen, PSK menjemputnya di area parkir P2 apartemen inisial P.
"Terus terang, saya cuma ikut-ikutan saja. Kenal sama S dari zaman anak-anak. Selama ini konsumen berasal dari Kota Bandung dan Jakarta," ucap AR.
Kapolsek Arcamanik Kompol Asep Saepudin menyebutkan PSK bergabung dengan muncikari itu bertarif mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. "Mereka menyewa dua unit ruangan apartemen. Tiap ruangan memiliki dua kamar," kata Asep.
Dua muncikari tersebut menyewa dua unit ruang apartemen seharga Rp 12 juta perbulan. Mereka sudah empat bulan melakoni praktik prostitusi online.
(bbn/ern)











































