"Kami mengimbau warga untuk mewaspadai DBD karena angka pasiennya mengalami kenaikan dari tahun 2014 ke tahun 2015 kemarin sehingga tahun ini kita harus siaga dan waspada supaya tidak terus bertambah kasusnya," ujar Kepala Dinkes Jabar Alma Lucyati, Kamis (4/1/2016).
Berdasarkan data dari PLPP Dinkes Jabar, pada tahun 2014 jumlah kasus DBD kumulatif dari 27 kabupaten kota ada sebanyak 18.140 pasien dengan kasus meninggal dunia sebanyak 178.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada tahun 2015, Kota Bandung tercatat yang paling tinggi kasusnya. Ada 3.640 pasien," tuturnya.
Angka kasus meninggal dunia yang paling tinggi yaitu Kabupaten Cirebon sebanyak 42 orang dari 1.247 pasien dengan CFR 3,37 persen dari angka kasus. Namun CFR paling besar yaitu di Kabupaten Indramayu 5,15 persen di mana dari 641 pasien, 33 meninggal dunia.
Tingginya angka kasus DBD tahun 2015 terus diatasi Dinkes Jabar dengan melakukan berbagai penanganan dan program seperti menggalakkan kader jumantik dan lainnuya.
Tercatat selama periode Januari 2016 ini, sudah ada 981 pasien yang terjangkit DBD dengan jumlah yang meninggal dunia sebanyak 24 orang.
"Dilihat dari angka pada periode yang sama kami melihat adanya penurunan. Pada Januari 2015 ada 2.917 kasus sementara di Januari 2016 ini hanya 981 kasus," sebutnya.
Namun kewaspadaan DBD harus terus ditingkatkan mengingat cuaca saat ini yang kerap mengakibatkan adanya genangan air yang menjadi sarana jentik nyamuk tumbuh.
"Harus ada kader jumantik di setiap rumah untuk memantau genangan air di rumah maupun sekitar rumah," katanya.
Jumlah kasus di bulan Januari disebut Alma biasanya yang tertinggi sepanjang tahun. Melihat jumlah kasus yang turun pada periode Januari ini Alma berharap kasus DBD selama 2016 bisa terus ditekan. (tya/ern)











































