Rencana pemindahan makam Kristen Pandu untuk jalan pintas Pandawa-Pandu-Pasteur disampaikan Kepala Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung, Arief Prasetya, Senin (4/1/2015). Sosialisasi ke ahli waris dan warga masih dilakukan. Realisasi dilakukan kemudian.
Selama ini, pemakaman Pandu memang dibuka untuk jalan umum pada pagi dan sore hari. Namun hanya untuk roda dua karena jalanan sempit. Nah, rencananya jalan makam Pandu dilebarkan menjadi 14 meter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Avitia Nurmatari/detikcom) |
"Proyek ini sekaligus untuk menata daerah situ supaya tidak kumuh. Makam akan dipindahkan ke (Pemakaman) Cikadut," kata Arief.
Makam Pandu sudah ada sejak 1932. Dulu merupakan pemakaman khusus orang Belanda. Di situ ada makam arsitek Belanda, Ir CP Wolf Schoemaker, yang merancang beberapa bangunan bersejarah di Kota Bandung, seperti Gereja Katedral di Jalan Merdeka, Gereja Bethel di Jalan Wastukencana, Masjid Cipaganti, Bioskop Majestic, Hotel Preanger, Societeit Concordia, Gedung Asia Afrika, Villa Isola, dan Gedung PLN Bandung.
Hampir seluruh lahan makam di TPU sudah digunakan. Untuk makam baru biasanya menggunakan lahan daur ulang atau makam yang sudah tidak lagi diregistrasi. Saat ini tercatat ada lebih dari 21 ribu makam di TPU tersebut.
Penjaga makam dan orang yang 'bekerja' di makam, tentu, tidak setuju pemindahan makam. Jelas karena faktor ekonomi. Penghasilan mereka berkurang atau terhenti sama sekali.
Warga sekitar makam juga tidak setuju proyek itu. Menurut mereka, kemacetan tak benar-benar hilang setelah proyek itu kelar, melainkan hanya bergeser.
"Kalau pagi sama sore aja padat. Apalagi nanti ada mobil. Saya nggak bisa membayangkan nanti macetnya seperti apa," ujar warga, Yanto.
Wali Kota Ridwan Kamil bergeming terkait sikap warga. Menurut dia, wajar jika terjadi dinamika. Setiap ada perubahan, orang cenderung takut.
Foto: Avitia Nurmatari/detikcom |
"Kalau dalam pembangunan, selalu ada dinamika. Pada dasarnya orang tidak mau berubah. Setiap ada berita perubahan cenderung takut," ujar Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil.
Menurut Emil, pembangunan di area pemakaman sebenarnya bukan hal baru. Di Kota Bandung sudah banyak jalan-jalan protokol yang dibangun dengan cara memindahkan kuburan. Salah satunya adalah pembangunan interchange KM 149 di Gedebage.
"(Pembangunan jalan itu) supaya dari Pasteur bisa potong kompas ke Pajajaran sehingga bisa mengurangi beban di jalur kemacetan. Karena mengurangi kemacetan itu kita harus memperbanyak pintasan-pintasan supaya orang tidak muter-muter di satu titik," beber pria yang berlatar arsitektur ini.
Untuk itu, Pemkot akan berkomunikasi dengan 600 ahli waris makam dan warga sekitar yang terkena dampak pembangunan. Yang penting, kata Emil, Pemkot taat aturan dan berkeadilan. Bagaiamana menurut Anda--warga Bandung atau orang yang pernah melintas di Pasteur?
(trw/err)












































Foto: Avitia Nurmatari/detikcom)
Foto: Avitia Nurmatari/detikcom