"Kalau dalam pembangunan, selalu ada dinamika. Pada dasarnya orang tidak mau berubah. Setiap ada berita perubahan cenderung takut," ujar Emil, panggilan akrabnya di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Kamis (7/1/2016).
Menurut pria yang akrab disapa Emil tersebut, pembangunan di area pemakaman sebenarnya bukan hal baru. Di Kota Bandung sudah banyak jalan-jalan protokol yang dibangun dengan cara memindahkan kuburan terlebih dahulu. Salah satunya adalah pembangunan interchange KM 149 di Gedebage.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu pihaknya akan lebih dulu melakukan komunikasi dan sosialisasi kepada 600 ahli waris makam yang akan terkena gusuran dan warga sekitar yang terkena dampak pembangunan.
"Jadi tinggal dikomunikasikan sesuai aspirasi yang penting kita taat asas taat aturan dan berkeadilan," tandasnya.
Berbeda dengan warga, mereka menilai dengan adanya jalan pintas nanti malah akan memperparah kemacetan di sekitar kawasan itu. "Saya enggak bisa membayangkan macetnya seperti apa," ujar Yanto, Ketua RTΒ 5 RW 03 Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cicendo saat ditemui di kediamannya.
Menurut Yanto, jangankan untuk jalur alternatif. Jika ada yang meninggal dan akan dimakamkan di Pemakaman Pandu, maka terjadi kemacetan di sekitar.
"Sepanjang Jalan ini kalau ada yang meninggal macet. Belum ada yang sekolah ada yang ke gereja juga," ujar Yanto.
Selama ini pemakaman Pandu memang dibuka untuk jalan umum. Namun khusus untuk roda dua karena jalanan sempit. Jika pagi dan sore hari. Banyak motor yang melintas.
"Kalau pagi sama sore ini ini padat. Apalagi nanti ada mobil," ujar Yanto. (avn/ern)











































