Pemkot Bandung menutup trayek 05 setelah buntut insiden pemukulan penumpang oleh oknum sopir angkot bercat merah ini. "Ya tentunya kami sebagai sopir yang nanti tetap menjaga ketertiban berlalu lintas. Serta memberikan kenyamanan kepada penumpang. Jangan karena ulah segelintir sopir, imej kami yang berniat baik malah dipandang jelek oleh masyarakat," ucap salah satu sopir 05, Yayat H (33), saat ditemui detikcom di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Senin (2/11/2015).
Kemungkinan besar trayek 08 berada di bawah naungan Kobutri yang semula mengelola angkot 05. Yayat pun sudah dipersiapkan oleh pengurus Kobutri untuk mengemudikan angkot 08. Rencananya armada 08 bercat hijau yang merupakan wajah baru bagi angkot 05 yang awalnya bercat merah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia berharap, kelak angkot 08 bisa menjadi sarana transportasi masyarakat yang memiliki komitmen beretika dan mengedepankan sopan santun. Yayat mengusulkan agar seluruh sopir 08 memampang kartu anggota selagi mengangkut penumpang.
"Contohnya seperti sopir taksi. Kartu anggota dan foto sopirnya dipasang di dalam mobil. Kalau penumpang komplain kan tahu identitas sopirnya. Selain itu, angkot 08 ditempeli stiker tarif sesuai rute-rute perjalanan. Sehingga penumpang tidak bingung dan bisa mengetahui ongkos yang dibayarkan," ujar Yayat.
Penempelen stiker tarif, menurut Yayat, bisa mencegah perselisihan antara sopir dan penumpang. Sebab, sambung dia, perseteruan kerap terjadi gara-gara masalah ongkos. "Jangan salahkan sopir saja, penumpang pun ada yang seenaknya bayar ongkos. Ketika kami bilang kurang, malah kabur penumpangnya," kata Yayat.
Usulan positif lainnya disampaikan Dedi Mulyadi (46), sopir angkot 05 lainnya yang disiapkan menjadi sopir 08. "Satu angkot 08 itu dua sopir. Bisa bergantian kerjanya, tentunya sepengetahuan pengurus. Jadi bakal ketahuan sopirnya jika misalnya hari itu penumpang merasa mendapatkan perlakuan tidak nyaman," tutur Dedi.
Dedi juga menginginkan penampilan sopir 08 memiliki ciri khas di mata masyarakat. "Kompak pakai seragam. Enggak tiap hari pastinya, sisa harinya berpakaian rapi saja," ujarnya.
Suara senada diungkapkan Asep Saefudin (37). Dia mengingatkan pengurus dan pemilik angkot 08 agar tidak sembarangan menyerahkan mobil kepada sopir abal-abal alias tidak terdaftar. "Jangan ada lagi sopir yang masih anak-anak bisa angkut penumpang sambil ugal-ugalan menjalankan angkotnya. Terutama malam hari. Oknum-oknum sopir seperti itulah yang membuat citra kami menjadi buruk," kata Asep yang berharap dirinya selepas 05 ditutup dapat menyopiri 08.
Sabar Pangabean (50), lebih lantang lagi menyatakan sikapnya saat nanti angkot 08 beroperasi. Secara pribadi, pria tersebut siap beralih ke angkot 08.
"Kalau ada sopir yang nakal, jangan didiamkan. Tindak tegas sajalah. Pengurus juga harus turun tangan. Kalau memang nanti ada angkot 08 yang ngalong atau jalan malam hari, pengurus Kobutri terapkan sistem ronda. Cara seperti itu biar tertib dan mencegah kehadiran oknum sopir," ucap Sabar.
Dia enggan setelah trayek 08 diresmikan, aturan-aturan yang awalnya disepakati bersama malah tak bertahan lama alias disepelekan. Pengurus Kobotri juga harus konsisten. "Jadi, jangan hangat-hangat tahi ayam," sindir Sabar yang sudah 15 tahun lebih mengemudikan angkot 05.
(bbn/ern)











































