Pria yang akrab disapa Emil itu mengakui pawai kemarin banyak dinodai oknum bobotoh yang tidak terpuji.
"Saya selama 5 jam menyaksikan betapa bahagianya warga. Mulai dari nenek-nenek, anak kecil. Tapi memang dinodai bobotoh yang datang bergerombol," ucap Emil di SMA St. Aloysius, Jalan Batununggal, Senin (26/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Siang ini rencananya, Emil dan Kapolrestabes akan melakukan rapat evaluasi di Balai Kota Bandung, untuk menentukan apakah tahun berikutnya jika Persib menang kompetisi akan dilakukan pawai atau tidak.
"Jika setelah dievaluasi menyatakan tidak direkomendasi (diadakan pawai) dan parade ini tidak usah ada lagi karena sebagian bobotoh tidak bisa menaati aturan dan merugikan orang lain. Kita cari lagi bentuk yang lain, yang tetap menyentuk masyarakat," ujarnya.
Namun Emil membandingkan dengan pawai kemenangan tahun 2014 lalu, tahun ini lebih baik.
"Kalau dulu perusakan secara massif, sekarang tidak terlalu. Lebih baik. Hanya prilakunya saja, oknum mah ada saja," tandasnya.
![]() |
Kemarin, banyak terjadi pelanggaran yang dilakukan bobotoh. Tak sedikit bobotoh yang berboncengan bertiga dan tidak mengenakan helm. Ada juga yang sambil berdiri. Suara knalpot yang digerung-gerung pun merajai jalanan Kota Bandung. Para bobotoh juga melanggar lampu merah di hampir setiap perempatan.
(avi/ern)













































