"Saya tidak tahu," kata Ina (46), warga setempat, saat berbincang dengan detikcom di lokasi bekas tempat nisan Elisabeth, Senin (7/9/2015).
Awalnya, nisan Elisabeth berada di Jalan H Mesri, RT 10 RW 6, Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Nisan itu teronggok di area kosong dikelilingi seng dekat mata air Ci Guriang. Ina memperkirakan, nisan Elisabeth berada di tengah-tengah permukiman sejak 40 tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun 1973, pemakaman di kompleks Kerkhof Kebon Jahe dipindahkan ke sejumlah titik karena lokasi akan menjadi GOR Pajajaran. Nisan Elisabeth merupakan salah satu yang tercecer.
Akhir Mei 2015 lalu, sejumlah petugas Kecamatan Cicendo membawa nisan Elisabeth ke kantor Kelurahan Pasirkaliki. Nisan tersebut berbentuk persegi panjang berukuran sekitar 50 cm x 100 cm dan ketebalan sekitar 17 cm. Pada nisan itu terpahat tulisan: ELISABETH ADRIANA HINSE-RIEMAN, GEB. AMSTERDAM, 9 MAART 1859, OBERL BANDOENG, 13 JANUARI 1903.
Beberapa netizen dan komunitas sejarah menyebut, Elisabeth merupakan istri D.W. Hinse J.Hz, seorang arsitek Belanda yang datang ke Hindia Belanda pada November 1902. Hinse disebut-sebut sebagai arsitek yang menjadi bagian pembangunan Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api Swasta di Semarang. Proyek itu kelar pada tahun 1907.
Gedung karya arsitek Belanda itu hingga kini masih berdiri megah di pusat Kota Semarang. Masyarakat mengenalnya sebagai Gedung Lawang Sewu karena memiliki banyak pintu. (err/try)











































