Di kawasan Binong Jati, Kelurahan Binong Kota Bandung pria yang akrab disapa Emil itu menepikan sepedanya di lapangan luas yang dipakai menjadi tempat adu merpati. Di sebuah kios yang banyak kandang merpati Emil duduk didampingi istrinya Atalia Praratya yang lebih dulu ada di lokasi.
Namun kemudian Emil meminta istrinya untuk mengunjungi warga sambil memberika wafer cokelat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di meja ala kadarnya, Emil mengeluarkan buku kecil dan spidol. Ia kemudian memulai menggambar. Kepada jajarannya Emil menanyakan perihal lahan milik Pemkot Bandung yang akan dibuat menjadi kantor kelurahan, alun-alun dan pasar.
Rapat berlangsung sekitar 30 menit, kemudian Emil melanjutkan perjalananya ke kantor Kelurahan Binong untuk Salat Dzuhur dan kembali mengayuh sepedanya ke kawasan Kiaracondong.
Di Kiaracondong, Emil melihat kondisi sungai-sungai yang berada di pinggir jalan. Cukup lama Emil memantau kondisi sungai dan penyebab banjir saat musim hujan. Sambil berjalan kaki dan memantau sungai, Emil kemudian duduk di samping kios koran. Dua alat kerjanya yakni buku kecil dan spidol kembali dikeluarkan. Emil menggambar sambil berkoordinasi dengan dinas terkait untuk penanganan sampah sungai.
Sekitar 15 menit rapat singkat, sepeda biru kesayangannya dipacu ke kawasan Jembatan Opat Kiaracondong. Emil berhenti di pangkalan ojeg sambil berkoordinasi dengan lurah setempat untuk revitalisasi kawasan rel kereta api yang lokasinya di samping kawasan Jembatan Opat.
Di samping pangkalan ojeg, kebetulan ada tukang bakso dan es kelapa. Saat panas terik cuaca Bandung itu, Emil membeli es kelapa muda sambil melayani masyarakat yang hendak berfoto. (avi/ern)











































