Hal itu diungkapkan sejumlah perwakilan perusahaan taksi dalam acara Seminar Fenomena Moda Transportasi Baru Kota Bandung di Era Digital di Aula Barat ITB, Jalan Ganeca, Senin (24/8/2015).
"Kami bisa tingkatkan pelayanan. Kami juga ingin mengubah imej pelayanan kami. Jangan sampai taksi di Bandung disebut argo kuda," ujar perwakilan dari Kopamas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Atas nama pribadi maupun organisasi, kami menolak Uber dan Gojek di Kota Bandung," katanya.
Senada dengan Kopamas, perwakilan dari Perusahaan Taksi Gemah Ripah (GR) juga meminta maaf jika ada warga yang menerima pelayanan buruk dari sopir taksi mereka.
"Saya sebagai perwakilan perusahaan, seperti yang lainnya juga ingin baik. Mohon maaf jika ada yang merasakan pelayanan buruk. Mohon segera laporkan, karena itu oknum, yang harus ditindak. Jangan sampai ulah pengemudi identik dengan perusahaan," tuturnya.
Soal Uber Taxi, GR pun menyatakan penolakannya karena tak ada payung hukum serta akan makin melemahkan taksi yang sudah ada saat ini. "Saat ini hanya 60 persen taksi kami yang operasi. Jangan tambah pemain baru," tuturnya.
Hal serupa dinyatakan oleh hampir seluruh perwakilan perusahaan taksi. Selama ini, untuk bisa beroperasi mereka telah menempuh izin yang panjang dan biaya yang besar sementara Uber Taxi saat ini hadir begitu saja tanpa melewati proses perizinan panjang seperti yang mereka tempuh. (tya/try)











































