Organda Jabar: Taksi Lama Bak Istri Sah yang Patut Dikasihani

Organda Jabar: Taksi Lama Bak Istri Sah yang Patut Dikasihani

Tya Eka Yulianti - detikNews
Senin, 24 Agu 2015 16:27 WIB
Organda Jabar: Taksi Lama Bak Istri Sah yang Patut Dikasihani
Foto: Avitia Nurmatari
Bandung - Ketua Pertimbangan Organda Jabar yang juga Wakil Kadin Jabar Bagian Perhubungan Aldo F Wiyana menganalogikan perusahaan taksi yang ada saat ini bak istri sah pertama yang kondisinya patut dikasihani dengan keberadaan Taksi Uber.

Bukannya diperhatikan dan disejahterakan, pemerintah malah membiarkan Taksi Uber sebagai pemain baru masuk tanpa mengikuti aturan yang ada. Jika dibiarkan, Aldo mengatakan 'istri sah' dapat melakukan hal-hal membahayakan.

Hal itu dikatakan Aldo dalam acara Seminar Fenomena Moda Transportasi Baru Kota Bandung di Era Digital di Aula Barat ITB, Jalan Ganeca, Senin (24/8/2015). Ia mengatakan, permasalahan taksi saat ini yaitu karena banyaknya armada yang tidak sebanding dengan penumpangnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerintah tidak menyelesaikan kelebihan suplai. Uber menyelesaikan karena ada aplikasinya, tapi mereka enggak ikut aturan," ujar Aldo.

Karena itu menurutnya dibutuhkan model terintegrasi di mana didalamnya dapat mengakomodir perusahaan taksi yang saat ini sudah ada dengan model transportasi baru seperti Uber atau Go-jek.

"Harusnya ada model penggabungan, pemerintah membuat blueprint nanti dibentuk satu entitas atau PT atau apa yang didalamnya bisa ada Organda, Uber, komunitas ojeg dll. Itu dibuat transportasi yang terpadu terintegrasi tapi di dalammya harus ngerti semua," tuturnya.

Mereka yang ada di dalamnya dikatakan Aldo harus mengerti teknologi. "Jangan sampai ada gap, yang tahu teknologi di lapangan semuanya," katanya.

Selain itu, pemerintah juga harusnya memberi modal untuk membantu pembentukan model penggabungan ini. "Kalau Uber kan itu sumber dananya biliuner-biliuner. Istilahnya kita nyari receh sedangkan kita anak negerinya. Padahal kita juga sudah mandiri," jelas Aldo.

Sambil menunggu hal itu terjadi, Aldo berharap Taksi Uber sebaiknya taat aturan dengan tidak beroperasi.

"Tetep aturan dilakukan, selama ini kita nurut kita enggak pernah jalananin tanpa trayek," katanya.

Jika Uber bertindak seenaknya maka perusahaan taksi juga akan dapat bertindak serupa. "Kalau mereka mau bebas begitu, kita juga bisa. Itu bahaya dilepas. Tinggal bikin aja, enggak mau bayar, ini itu, mau bebas ini itu, bisa ribet. Pemerintah akan lebih susah mengelola yang sudah ada. Kita ini seperti istri sah, kasihan, bukan dibikin bagus kok ada yang lain yang enggak ikutin aturan," tuturnya.

(tya/ern)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads