Hal itu disampaikan Rizky saat Seminar Fenomena Moda Transportasi Baru Kota Bandung di Era Digital di Aula Barat ITB, Jalan Ganeca, Senin (24/8/2015).
"Esensinya pelayanan. Karena Go-jek dan Uber ini muncul karena kebutuhan," ujar Rizky.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya saya pernah naik taksi dengan istri yang sedang hamil besar. Sopirnya merokok, saya tegur karena istri saya sedang hamil. Dia malah melotot, lalu jalankan taksi dengan ngebut. Itu kan bikin kesal," katanya.
Selain pelayanan personal para sopir angkot yang kurang profesional dan ramah, masalah tarif atau penggunaan argo yang kerap tak sesuai sehingga membuat penumpang tak nyaman.
"Intinya adalah ini soal fenomena pelayanan. Mau taksinya BMW seri terbaru tapi kalau pelayanan buruk kan kita juga tidak mau. Tarif tidak menentukan orang naik atau tidak tapi pelayanannya," tuturnya.
Terlepas dari aspek legalitas, Rizky mengatakan bahwa perusahaan taksi atau tukang ojek perlu mencontoh pelayanan dari Taksi Uber atau Go-jek yang bisa melayani penggunanya dengan nyaman.
"Minimal bisa enggak kita memberi pelayanan sebaik itu. Cuma dibukakan pintu, disapa Selamat Pagi, itu adalah hal sederhana yang berkesan. Pada teman-teman sopir taksi, maaf, kalau ada satu di antara teman-teman yang tidak baik, penumpang itu bisa saling menyebarkan ke yang lain. Jadi kalau ada yang tidak baik, tolong ingatkan," katanya.
(tya/ern)











































