Kisruh Dugaan Pemalsuan Surat Miskin, Lurah-Kepsek Saling Tuding

Kisruh Dugaan Pemalsuan Surat Miskin, Lurah-Kepsek Saling Tuding

Avitia Nurmatari - detikNews
Kamis, 02 Jul 2015 15:48 WIB
Kisruh Dugaan Pemalsuan Surat Miskin, Lurah-Kepsek Saling Tuding
(Foto: Avitia Nurmatari/detikcom)
Bandung - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil geram. Dalam pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Kota Bandung diduga banyak warga mampu yang mengaku miskin. Lurah dan Kepala Sekolah saling tuding dan enggan disalahkan.

Hari ini, Kamis (2/6/2015) Emil--sapaan Ridwan Kamil, dan Kapolrestabes Bandung Kombes Pol AR Yoyol melakukan pertemuan dengan lurah, camat dan kepala sekolah di Auditorium Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana. Yoyol membeberkan temuan-temuannya dalam bentuk foto. Dari penelusuran jajarannya, ada yang mendapat SKTM namun rumahnya bertingkat dan memiliki mobil. Bahkan orang tuanya bekerja di perusahaan BUMN ternama.

"Hampir semua kelurahan ada. Ini contohnya, masa rumahnya bertingkat dan memiliki mobil daftar sekolah pakai SKTM," ujar Yoyol sambil menunjukan gambar salah satu rumah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, pihak kepolisian juga menemukan warga yang mengajukan SKTM, namun kediamannya bagus dan moderen.

"Ini masa rumahnya bagus seperti ini miskin. Gimana ini," ucap Yoyol sambil menyebut nama BUMN terkemuka.

Setelah ditunjukan foto-foto dengan nama kelurahan dan kecamatannya, para lurah pun seperti gelisah. Salah satu lurah yakni Riri mengaku kaget dengan adanya polisi dalam forum tersebut.

"Saya kaget kok ada polisi. Tapi saya berpikiran positif semoga bisa bekerjasama. Tapi kan saya sudah konfirmasi ke RT-RW. Lagi pula yang memutuskan miskin atau tidaknya kan sekolah," kata Riri yang disambut olokan dari para kepala sekolah.

Selanjutnya yang mendapat giliran berbicara yakni Kepala Sekolah SMA 1 Cucu Saputra. Cucu mengaku mendukung kebijkan dan keterlibatan kepolisian untuk ikut memverifikasi SKTM.

"Saya rasa ini bagian dari edukasi bagiman agar masyarakat dan semua pihak jujur. Tapi diterima atau tidaknya bukan oleh sekolah," ucapnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Sundari, kepala sekolah SMA 2 Bandung. Pihaknya merasa pihak sekolah selalu disalahkan. "Kenapa sekolah ini selalu disalahkan? Kami hanya menerima data dari pihak kelurahan," ucapnya.

Melihat jajarannya saling tuding Emil geram. Pihaknya menyayangkan para lurah tidak mengikuti arahannya.

"Saya bilang harusnya disesuaikan dengan arahan dari pimpinan. Lurah diberi tugas sampai akhir Mei untuk memverifikasi. Kepada Lurah yang ditegur karena ada kelalaian yang sengaja atau keteledoran akan dikenai sanksi," tegasnya. (avi/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads