Hal itu disampaikan Heryawan saat ditemui usai mengikuti rapat paripurna di Gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Selasa (16/6/2015).
"Kan siapapun harus memahami bahwa ini bulan suci Ramadan dimana kaum muslimin wajib berpuasa. Nah kita kan diajari toleransi menghormati sesama umat beragama. Toleransi sekarang juga sudah berjalan dengan bagus. Menghormati Natal yang selain yang beragama Nasrani. Ketika ada Nyepi di Bali semua agama yang ada selain Hindu juga menghormati nyepi. Pada saat sekarang juga akan sangat bagus, sangat elok kalau bisa saat siang hari di mana kaum muslimin tidak makan dan minum alias berpuasa, maka semua menghormati keadaan puasa tersebut," ujar Heryawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, usaha restoran atau rumah makan tidak akan merugi dengan kondisi tersebut. Hanya waktunya saja yang berbeda dengan hari-hari biasanya.
"Insya Allah saya amat yakin tidak akan rugi. Karena siapapun pasti memerlukan makanan untuk buka puasa. Saat buka, akan banyak dicari, baik yang makan di situ atau dibawa pulang. Pas sahur juga dicari," tutur Heryawan.
Ia bercerita saat tinggal di Jakarta dulu, saat malas sahur di rumah, Heryawan dan keluarga pernah pergi ke rumah makan padang yang ternyata sangat ramai.
"Ternyata banyak orang. Saya tanya rugi enggak. Katanya enggak bahkan meningkat sebab selain menyediakan makan di sini atau bungkus mereka juga sediakan makanan yang bisa dibawa untuk berhari-hari ke depan. Misalnya paket rendang. Jadi malah laku, jadi bisnis nambah," katanya.
"Kalau saya sih akurlah dengan pendapat MUI," tambahnya.
Sementara sikap sikap Wali Kota Bandung Ridwan Kamil berbeda. Ia memperbolehkan pedagang makanan untuk tetap berjualan siang hari selama bulan Ramadan. Asalkan tidak mencolok.
(tya/ern)










































