Setiap tahun setiap bulan Ramadan kerap terjadi eksodus pengemis dan gelandangan. Mereka sudah dikoordinir dan datang bergerombol ke Kota Bandung untuk mencari nafkah.
"Teman-teman lagi melakukan penjangkauan. Dengan upaya yang sedang kami lakukan ini diharapkan bisa mengurangi eksodus," ujar Kepala Dinas Sosial Kota Bandung Dodi Ridwansyah di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Selasaa (16/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seluruhnya ada 90 orang. Jumlah personel masing-masing titik berbeda. Tergantung kondisinya. Ada yang rawan, ada yang tidak. Kalau yang rawan personelnya lebih banyak karena pengemis, pengamen dan anak jalananya juga banyak," ungkapnya.
Untuk tahun 2015 ini, Dinsos Kota Bandung menganggarkan Rp 1,8 miliar untuk membayar Tim Rompi Merah ini.
"Tim ini kan terdiri dari beberap unsur. Ada Kodim, Kepolisian, Satpol PP dan Kewilayahan. Anggarannya kita siapkn 1,8 miliar untuk 11 bulan," terangnya.
Lalu apa tim ini hanya bekerja saat menjelang Ramadan saja? Sementara jika melihat kondisi Kota Bandung saat ini masih sering ditemukan pengemis dan pengamen berandalan.
Dodi pun tak menampik. Saat ini pihaknya mengaku kesulitan untuk mengurusi anak-anak jalanan dan pengamen
"Kalau melihat tren dari tahun sebelumnya tidak terlalu banyak perubahan. Setiap hari kita juga lakukan penjangkuan. Pengemis ada penurunan. Yang sulit itu pengamen jalanan, anak jalanan dan anak-anak yang bergaya ala punk," ungkap Dodi.
Dodi berpesan kepada masyarakat Kota Bandung agar tidak memberi uang kepada pengemis. Melainkan memberikan uang sumbangan tersebut kepada lembaga-lembaga resmi.
"Kita tidak melarang untuk memberi, tapi sebaiknya, disalurkan melalui lembaga resmi, misalnya ke panti-panti asuhan atau badan amal lainnya," tandasnya.
(avi/ern)











































