Joki Wisatawan yang Dituding Preman Pasar Baru Sudah Beraksi 5 Tahun

Joki Wisatawan yang Dituding Preman Pasar Baru Sudah Beraksi 5 Tahun

- detikNews
Kamis, 02 Apr 2015 21:39 WIB
Bandung - Menolak disebut preman Pasar Baru, 23 pria yang diamankan Polrestabes Bandung mengaku sebagai joki wisatawan. Mereka mengaku tidak pernah memaksa konsumen yang datang untuk berbelanja di toko tertentu. Namun hal itu berbeda dengan keluhan wisatawan pada polisi maupun Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

Para joki wisatawan ini mengaku sebagai putera daerah yang menetap di sekitar Pasar Baru, Jalan Oto Iskandardinata. Kiprah mereka ternyata sudah cukup lama. Lima tahun.

"Kami sebagai joki wisatawan yang berbelanja di Pasar Baru punya aturan. Pertama, joki tidak boleh memaksa mengarahkan wisatawan belanja di toko tertentu. Kedua, joki tidak boleh memeras wisatawan dan toko. Ketiga, joki dilarang mabuk," ucap Asep Kutil (32), koordinator joki wistawan mal Pasar Baru, kepada wartawan di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kamis (2/4/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, menurut Asep, ada aturan yang mesti dipatuhi para joki. "Joki harus berpakaian rapi. Kami ingin menunjukkan kalau orang Bandung itu sopan santun. Kami juga seperti guide, menjelaskan budaya Indonesia, terutama budaya Sunda, kepada wisatawan. Misalnya soal baju pangsi, iket kepala, dan musik tradisional angklung," tuturnya.

Asep mengungkapkan, joki wisatawan yang saban hari seliweran di Pasar Baru berjumlah tiga puluh orang. Para joki di bawah komando tiga koordinator. "Memang kami ini tidak resmi. Tapi joki di Pasar Baru itu tugasnya mengantar wisatawan dan membantu membawa barang belanjaan wisatawan. Kami tak memeras. Bila joki melanggar, koordinator wajib menegur," ujar Asep.

Munculnya ide joki wistawan, kata Asep, tercetus sewaktu obrolan santai dengan para sopir travel yang biasa mengantar rombongan wisatawan. Sopir meminta agar anak-anak muda yang biasa jualan asongan di Pasar Baru bisa nyambi menjadi pengantar wisatawan yang hendak belanja. "Kami yang semula pedagang asongan, akhirnya beralih jadi joki wisatawan. Kebetulan kami ini putra daerah," ucap Asep.

Eka Sugara (28), koordinator joki wisatawan, mengatakan mereka membantu wisatawan yang mayoritas asal Malaysia untuk menikmati belanja di mal Pasar Baru. "Ketika mobil wisatawan datang, kami sudah siap membantu. Malah kami diminta tolong oleh wisatawan. Sering juga sopir-sopir yang bawa rombongan wisatawan itu menyuruh kami mengantar belanja," tutur Eka.

Menurut Eka, joki-joki tidak mengajak paksa wisatawan untuk belanja di toko-toko tertentu. "Kami ajak keliling. Kalau wisatawan minta dicarikan mukena yang harganya murah, kami antar. Jadi enggak diarahkan ke satu atau dua toko. Cocok atau tidaknya harga kan urusan orang belanja," ucapnya.

Joki memperoleh uang tip dari pihak toko yang barang belanjannya dibeli wisatawan. Namun, sambung Eka, para joki tak mematok uang tip dari pengelola toko. "Kami menerima tiga hingga sepuluh persen dari barang yang terjual. Enggak maksa minta. Joki juga enggak boleh minta uang kepada wisatawan," tutur Eka.

Setiap hari, menurut Eka, satu joki tak menentu mengantongi duit tip. "Kadang sehari bisa Rp 30 ribu, paling besar Rp 100 ribu. Sering juga wisatawan memberi uang. Ya itu kan rezeki," ucap Eka.

Pengakuan Asep dan Eka berbeda dengan keluhan yang diterima polisi dan wali kota dari wisatawan yang datang. Mereka mengaku merasa 'terintimidasi' karena tidak bisa berbelanja dengan bebas. Para joki ini mengarahkan wisatawan yang datang ke toko tertentu. Hal itu pun dikeluhkan pemilik toko lainnya.


(bbn/ern)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads