Ayah dan Nenek Wanti sudah tidak bisa diandalkan untuk mencari nafkah. Sehari-hari Wanti mengandalkan uang kiriman tantenya. Jika ada uang, Wanti baru membeli beras dan lauk pauk. Jika uang sudah menipis, terpaksa makan hanya dengan garam saja.
"Ya kalau memang ada uangnya beli lauk pauknyaa. Kalau enggak ada, sama garam," ujar Wanti yang diamini ayah dan neneknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wanti dan keluarga masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Memang ada kompor dan tabung gas 3 kilogram di kediamannya. Namun jarang digunakan.
"Suka masak, ya masak apa saja yang ada," ujarnya.
Jika tidak sempat sarapan di rumah, Wanti cukup dengan sarapan gorengan di sekolahnya dengan uang bekal Rp 2.000.
"Paling buat beli gorengan aja di sekolah," ucapnya.
Namun demikian, Ia tidak pernah merasa malu dengan kondisi keluarganya. Keadaan ekonomi keluarganya yang miskin tetap membuat Wanti percaya diri.
"Enggak minder, biasa aja," ucapnya.
Sosok Wanti yang sederhana dan prihatin namun tetap semangat dan bahagia, bisa menjadi contoh bahwa dalam hidup tidak selalu melulu bahagia karena materi.
(avi/ern)











































