"Berdasarkan studi ilmiah, tolong dikutip. Sepenuh-penuhnya angkot di Bandung hanya bisa mengangkut 20 persen warga Bandung. Berarti 80 persennya itu enggak terangkut," ujarnya di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum, Jumat (12/12/2014).
Karena itu, kata Emil, keberadaan bus sekolah gratis itu seharusnya tak berdampak apa-apa pada jumlah penumpang Angkot. Apalagi bus sekolah beroperasinya di jam-jam tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Emil seharusnya para sopir Angkot itu memahami bahwa jumlah penumpang mereka menurun karena orang beralih dengan sepeda motor. Karena itu, angkot dan bus sekolah seharusnya menjadi tim untuk menarik kembali penumpang dari sepeda motor ke angkutan umum.
Selain itu, kenaikan harga BBM juga diduga Emil menjadi penyebab menurunnya penumpang Angkot. "Karena BBM naik, tarif angkot jadi naik besar sekali. Seharusnya seribu, ini malah jadi dua ribu. Banyak yang komplain ke saya," kata Emil.
Namun untuk mengakomodir suara sopir angkot yang protes, Emil menyatakan akan meminta tim independen untuk mengecek apakah ada korelasinya antara keberadaan bus sekolah dengan penurunan jumlah penumpang angkot. Setelah keluar hasilnya, baru solusinya ditentukan.
"Kalau klaim-klaim bisa saja. Tapi saya tidak akan berdebat di wilayah klaim-klaiman," tandasnya.
Kemarin, ratusan sopir Angkot Dago demo di Balai Kota Bandung. Mereka menuntut penghentian bus sekolah gratis yang dituding sebagai penyebab menurunnya penumpang angkot.
(ern/ern)










































