Hal itu diungkapkan Ferry saat ditemui di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kamis (14/8/2014).
"Pelaku usaha mikro seperti pedagang dorongan, tukang baso atau gorengan atau yang memproduksi di rumah akan kena imbas kalau gas elpiji 12 kg dinaikkan," ujar Ferry.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain industri makanan minuman yang juga menggunakan gas dalam jumlah banyak di antaranya industri logam, pengelasan, keramik dan kaca," sebutnya.
Tak hanya lini industri yang akan terkena dampak melainkan juga rumah tangga. Dikhawatirkan, akan ada migrasi dari pengguna gas elpiji 12 kg menjadi 3 kg.
"Dikhawatirkan akan ada migrasi ke 3 kg bagi mereka yang tidak menyadari bahwa yang berhak menggunakan gas melon itu adalah usaha mikro dan masyarakat kecil," ungkap Ferry.
Ia pun menyindir masyarat yang seharusnya tak berhak menggunakan gas elpiji melon.
"Mampu mencicil mobil masih pake gas 3 kg, pakai gadget canggih pakai gas 3 kg. Udah jelas itu untuk usaha mikro dan masyarakat kecil," katanya.
Ia mengatakan, Gubernur Jabar sempat melontarkan ide untuk membuat label jelas di tabung gas melon seperti halnya raskin yang memang diperuntukan untuk rakyat miskin.
"Supaya ada pengelompokan masyarakat, kalau ada merasa boleh pakai gas 3 kg. Meskipun di pangkalan juga ada spanduk atau pemberitahuan bahwa gas 3 kg itu bukan untuk mereka yang mampu," katanya.
Jika terjadi migrasi, maka ketersediaan gas melon pun akan semakin langka dan berakibat juga dengan kenaikan harga.
"Nanti gas 3 kg akan sulit ditemukan, harga mahal, para pelaku usaha mikro kita yang biasa gas melon akan menaikkan harga," terang Ferry.
(tya/ern)











































