Seperti Eva Nur Fauzia (20), ini adalah kali kedua bagi perempuan yang menderita polio ini mengikuti SBMPTN. Tak lulus di tahun 2013 tak membuatnya patah arang. Dengan menggunakan kursi roda, ia pun kembali mengikuti SBMPTN tahun ini.
"Tahun lalu mungkin saya ketinggian pilih jurusannya. Tahun ini saya mau coba lagi. "Saya penasaran aja. Ingin buktiin juga kalau saya ini bisa," katanya dengan semangat saat ditemui di Kampus ITB, jalan Ganeca, Selasa (17/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Eva, ada juga Idfas (24) yang masuk di kelompok tuna netra karena menderita low vision. Lulusan SLBA Pajajaran ini mengikuti SBMPTN bersama 5 temannya yang lain.
"Kan sama-sama makan nasi. Jadi saya merasa punya kesempatan yang sama juga. Bedanya, fisik mereka sempurna, kita enggak. Itu aja," katanya penuh semangat.
Untuk mengerjakan ujian, Idfas harus dibantu dua pengawas untuk membacakan dan mengisi jawaban pada lembar jawaban. Idfas memilih jurusan Ilmu Komunikasi dan Ilmu Hukum di Unpad serta Pendidikan Luar Biasa di UPI.
"Saya ingin jadi penyiar radio supaya bisa menghibur orang. Atau ingin jadi lawyer supaya bisa membela hak orang-orang seperti kami," tutur Idfas.
Meski memiliki hambatan, namun Idfas optimis dirinya bisa meraih kesuksesan yang sama dengan orang lain yang lebih beruntung memiliki fisik sempurna.
(tya/ern)











































